Tuesday, February 28, 2017

segiempat berisi senja.






kukirimkan sepotong senja ini untukmu alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata. sudah terlalu banyak kata di dunia ini alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. 
aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia alina. untuk apa? kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? 
di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. setiap kata bisa diganti artinya. setiap arti bisa diubah maknanya. itulah dunia kita alina. 
kukirimkan sepotong senja untukmu alina, bukan kata-kata cinta. kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.
--sepotong senja untuk pacarku. (karangbolong-jakarta, 1991)






senja yang kau kirimkan sudah kuterima, kukira sama lengkap seperti ketika engkau memotongnya di langit yang kemerah-merahan itu, lengkap dengan bau laut, desir angin dan suara hempasan ombak yang memecah pantai. ada juga kepak burung-burung, lambaian pohon-pohon nyiur dalam kekelaman, sementara di kejauhan perahu layar merayapi cakrawala dan melintasi matahari yang sedang terbenam. 
aku pun tahu sukab, senja yang paling keemas-emasan sekalipun hanya akan berakhir dalam keremangan menyedihkan, ketika segala makhluk dan benda menjadi siluet, lantas menyatu dalam kegelapan. kita sama-sama tahu, keindahan senja itu, kepastiannya untuk selesai dan menjadi malam dengan kejam. manusia memburu senja ke mana-mana, tapi dunia ini fana sukab, seperti senja. 
kehidupan mungkin saja memancar gilang-gemilang, tetapi ia berubah dengan pasti. waktu mengubah segalanya tanpa sisa, menjadi kehitaman yang membentang sepanjang pantai. hitam, sunyi dan kelam. 
rupa-rupanya dengan cara seperti itulah dunia mesti berakhir.
--jawaban alina. (pondok aren, sabtu, 10 febuari 2001)






kini tinggal surat terakhir, yang rasanya tiba-tiba menjadi berat sekali. anak-anak desa yang sedang menggembala kambing, ikut berkerumun ketika aku mengambil surat dari dalam tas di boncengan. 
"cahaya! cahaya!" teriak mereka. 
mereka berkumpul dan menatapku dengan mata bertanya-tanya. kuambil amplop itu, berat juga untuk ukurannnya, malah berat sekali. heran aku bisa kuat membawanya selama ini. rupa-rupanya ada celah yang terbuka. petugas federal express di kota di mana pelangi tidak pernah memudar itu kurang teliti merekatkan penutup amplop. payah. itulah kalau kerja sudah menjadi rutin, tidak terpikir bahwa surat bukanlah sekadar surat. 
sebuah surat adalah pesan, kandungan rohani manusia yang mengembara sebelum sampai tujuannya. sebuah surat adalah sebuah dunia, di mana manusia dan manusia bersua. itulah sebabnya sebuah surat harus tertutup rapat, pribadi dan rahasia, dan tak seorang pun berhak membukanya. masalahnya, surat ini sekarang sudah terbuka, dan aku yang dengan tidak sengaja menengok ke dalamnya bagaikan langsung tersihir. 
"awas pak! jangan masuk! itu senja!" anak-anak itu berteriak. 
aku tidak ingin masuk, tapi aku tersedot ke dalamnya.
--tukang pos dalam amplop. (pondok aren, senin, 26 febuari 2001)





____________________
*petik daripada kompilasi tulisan seno gumira adji darma, dalam buku terbitan gramedia pustaka utama, yang tajuknya ialahhh 'sepotong senja untuk pacarku', pada bahagiannn 'trilogi alina'. 


Saturday, February 4, 2017

bookmarked page.




kali pertama aku terjumpa denganmu adalah ketika hari hujan, di cafe perpustakaan kota. aku dengan tidak sengaja terpandang kau yang menolak pintu kaca cafe, selepas menyapu pergi butir-butir hujan yang melekat pada jacket cardigan berwarna biru gelap, di hadapan pintu kaca itu. di tangan kirimu ada sebuah buku, yang ditulis oleh penulis sama buku yang sedang aku baca ketika itu. ya, kita membaca buku yang berbeza tapi ditulis oleh penulis yang sama. kau menempah secawan honey lemon tea. kemudian kau duduk dan mula membaca. seperti aku, kau juga baru mula membaca buku itu, masih tidak sampai suku buku habis dibaca. 
dua hari kemudian, ternyata kau juga bertandang lagi ke cafe itu seperti aku. mungkin kau juga suka idea reka bentuk dalaman cafe itu. kita sama-sama masih tetap membaca buku yang sama seperti hari pertama itu. ah, maafkan aku jika aku terlalu sering memerhatikanmu. aku hanya tertarik pada buku di tanganmu itu. aku penasaran ingin tahu, seperti apa cerita yang ditulis oleh sang penulis di buku itu? apakah lebih kurang saja kisahnya dengan buku yang aku baca ini atau sebenarnya jauh berbeza? cerita di buku yang manakah lebih menarik, buku yang itu atau buku yang ini? kau kelihatannya begitu khusyuk membaca buku itu.
jarum jam waktu- matahari(siang) dan bulan(malam)- terus berpusing di bulatannya- bumi(langit). sudah seminggu berlalu. cafe itu masih tetap kita singgahi jika berkunjung ke perpustakaan. dan buku daripada penulis yang sama itu, masing-masing masih kita bawa bersama untuk dibaca. tapi, aku perasan, ada tanda yang kau tinggalkan di salah satu mukasurat buku yang ada padamu. pelekat berwarna jingga yang separuhnya nampak jelas tertonjol keluar di antara helaian-helaian kertas. dan bacaanmu tidak pernah melepasi mukasurat bertanda itu. setelah habis di mukasurat itu, kau selak kembali mukasurat sebelum-sebelumnya, bukan mukasurat selepasnya. dan hal itu kau ulang. aku tidak pasti, apa yang menyebabkanmu berbuat seperti itu. mungkin kisah dari permulaan mukasurat pertama sehingga ke mukasurat itu terlalu indah dan seronok untuk dibaca berulang kali. atau mungkin ada konflik atau persoalan  pada plot cerita tulisan penulis yang masih belum kau fahami, dan kau cuba menghuraikan kekeliruanmu dengan membacanya semula dari mukasurat pertama. 
dan hari itu, aku yang sudahpun hampir ke mukasurat pertengahan, menutup buku dan menghentikan sebentar pembacaanku. mungkin kisah yang aku baca tidak serumit kisah yang kau baca itu. aku kemudian masuk ke dalam perpustakaan dan pergi ke kaunter pustakawan. aku bertanya kepada mereka jika waktu peminjaman buku boleh dianjak dari tempoh asal selama dua minggu, dan mereka berkata, "maaf, tidak boleh."

Thursday, February 2, 2017

write it down.













"i know you have seen things you wish you hadn’t. you have done things you wish you could take back. and you wonder why you were thrown into the thick of it all-why you had to suffer the way you did. 
and as you are sitting there alone and hurting, i wish i could put a pen in your hand and gently remind you how the world has given you poetry and now you must give it back."  

--lang leav, memories; poetry, page 9.