Saturday, February 17, 2018

psithurism.







"did you see it?" 
"what?" 
"wind." 
"dude, we feel the wind, not see it." 
"okay. did you feel it?" 
"well, yeah.. why though?"
"we often asked the wrong question, ain't we?" 
"hmm, i guess so.. then, we confused ourselves in the process of getting the answers."




"okay, let say you're a doctor.." 
"no, i'm not." 
"that's it. i gave up." 
"haha. okay okay.. so, what if i'm a doctor?' 
"when a patient come to see you,  and this is the first time you meet him or her, what will you expect from him or her?" 
"hmm.. what? i don't know.. never be a doctor before.." 
"urghh.. i know this is going nowhere.."
"you be the doctor then." 
"ah, never mind who is the doctor. but i think, the basic are, the doctor need to know what are the patient's diseases or symptoms as the mukaddimah." 
"agreed."
"so, what if a patient came to a doctor, then he or she skip that stage and directly ask for treatments or medicines."
"both the patient and the doctor will be very confused. nothing will be cured."



"now, here is the thing.. did we ever talk to God about our sickness? how did the sessions going? did we sincerely explained everything we felt and going through? did we sincerely confessed to Him that we're emotionally and spiritually ill, if not physically sick?" 
"okay i've got your point. to simplify, did we fully put our trust into Him?"
"yup. unlike the doctor, this stage of confessing before Him, the purpose is never to let Him know what our illness are, He indeed know everything, even if we never said them. more than that, this is already part of our curing. let all the toxic thoughts inside our mind, heart and soul to come out. if not, they will be more and more poisonous.
"this is all about getting closer to As-Shafee; The Healer along the treatment process, because only He know what's best for us to be healed."



"just like the wind talked to us through its cooling breeze on a hot sunny noon. even if we can't see it, we still feel the coolness."
"the God promised us too.." 
"in surah number two and ayah number one eight six." 
"and if my servants ask you(the prophet saw) about Me, then I am indeed near."







___
*mind my kindergarten grammar, he still learning how to write properly. and he often got lost in translation too.
**syafakallah.

Wednesday, February 07, 2018

just what you're worth,










































































































lights will guide you home.














Wednesday, January 31, 2018

amplop berisi pikiran dan perasaan januari.






bismillah. 

assalamualaikum.
sedang bagaimana langit di sana?
kepada yang sedang membaca ini- tidak akan kusebut namamu di sini- kau tahu sendirilah bahawa surat ini memang adalah untukmu, kerana kalau surat ini bukan untukmu, nescaya tidak akan dapat kau baca kata-kataku begini. aku dan pena yang aku pakai ini sudah bersepakat untuk berbicara hanya kepada seseorang yang khusus dalam ruangan ini. suara-suara dalam naskhah ini mungkin akan terdengar di telinga-telinga orang lain, tapi mereka juga pasti sedar bahwa kata-kata yang mereka terdengarkan ini bukan untuk mereka, tapi untuk orang lain yang tidak mereka ketahui siapa dan orang itu tentu bukan diri mereka sendiri. kata-kata yang ditulis dari hati hanya punya satu alamat yakni hati yang ingin ditujuinya. semoga tulisan ini tidak tersesat dalam perjalanannya menujumu.
di paragraf yang ini akan kuceritakan bagaimana aku akhirnya memilih untuk menulis begini di sini. semua bermula pada pagi yang kemarin ketika  aku mengemas-ngemas meja untuk memulakan hari yang baru di kantorku, aku terpandang selonggok kertas bersebelahan mesin cetak, di dalam kotak berwarna hijau coklat. untuk pengetahuanmu, kotak ini adalah pusat tahanan reman untuk kertas-kertas yang bersalah, ah maksudku, kertas-kertas yang tersalah cetak, tidak lagi akan digunapakai. rata-rata kertas-kertas itu sudah berisi dakwat hitam, tapi cuma pada sebelah halaman. sedangkan halaman dibaliknya masih polos. aku pikir, kertas-kertas ini berhak diberikan peluang kedua. mereka tidak pernah memilih untuk menanggung cetakan yang salah, mereka hanya akur apa yang diminta oleh manusia pencetaknya. bukankah parah untuk terbuang atas sesuatu yang kita tidak pernah putuskan? bukankah menyebalkan untuk menanggung hukuman hasil daripada kesilapan daripada orang lain? maka, aku ingin menyelamatkan manusia daripada terus dibenci oleh kertas-kertas ini. aku ingin menjelaskan kepada mereka bahawa tidak semua manusia itu egois dan sombong, masih ada yang kasih, masih ada yang sayang. dan aku terpaksa menarik seseorang yakni kau ke dalam konspirasi besar ini, kerana surat yang ditulis perlu kepada alamat. jika menulis surat tanpa alamat itu sama ertinya menyiapkan kereta tanpa stereng. aku tidak mahu kertas-kertas ini menganggap bahawa aku tidak serius memperjuangkan nasib mereka. percayalah padaku, kita- aku dan kau- sedang menyelamatkan dunia daripada kehancuran akibat perang antara manusia dan kertas. justru di atas kertas-kertas ini, aku percayakan fikiran-fikiran dan perasaan-perasaanku kepada mereka. biar mereka tahu bahawa mereka sedang menerima sesuatu yang besar dan berharga daripadaku. kerana bagiku, meski kertas-kertas ini tidak sempurna, mereka tetap memiliki keikhlasan.
suara paling dalam dari hati manusia terlalu perlahan, hampir bisu, untuk sampai kepada pendengaran kasar kita. ia butuh kesendirian, kesunyian dan ketenteraman. yang mampu mendengarnya bukan telinga kita, tapi hanya akal kita. mendapatkan kerjasama daripada hati dan akal sekaligus bukanlah hal yang mudah. akal adalah pengembara sejati yang suka berjalan ke sana ke mari, meneroka entah apa saja yang ia temui dan senang untuk berkenalan fikiran-fikiran lain. sedangkan hati adalah penduduk yang statik, ia lebih suka bersenang-senang di kediamannya sendiri bermain hanya dengan perasaan-perasaan yang ia sedia miliki dan tidak pula suka diganggu. mendamaikan keduanya dalam tulisan-tulisan, apatah lagi dalam percakapan-percakapan, bukanlah sesuatu yang mudah. menurutku begitu. namun hal itu tetap akan aku usahakan jika aku masih menulis lagi begini pada waktu-waktu di hadapan. ruangan yang ada pada kertas-kertas ini terlalu terhad untuk disia-siakan dengan tulisan yang tidak ikhlas dan tidak berani.

cukuplah sampai di ayat itu saja kali ini. cuma sedikit itu yang terllintas sekarang. selamatlah menikmati malam yang dingin, semoga tulisan ini sedikit menghangatkan. kalau tidak cukup, nyalakanlah unggun api di dekatmu.
sekian.









___
*agak kekok dan berterabur di situ.  lama dah tak tulis surat, lol.