Showing posts with label manusia-manusia. Show all posts
Showing posts with label manusia-manusia. Show all posts

Saturday, February 01, 2020

familiar views.



















sebagai manusia, kita ada di dalam tiga dimensi.
pertama; seperti apa kita memandang diri kita sendiri.
kedua; seperti apa, yang sebenarnya, orang lain memandang kita.
ketiga; kita ingin kelihatan seperti apa pada pandangan orang lain.
kita akan menjadi lebih aman dan tenang dengan semakin dekatnya jarak dan semakin sedikitnya perbezaan antara ketiga-tiga dimensi ini-- fikiran, perasaan dan jasad menjadi lebih harmoni untuk menjalani hidup.

















ya, sudah tentu 'pandangan' Tuhan adalah yang perlu diutamakan.




















Tuesday, July 17, 2018

everyone.






"welcome to subway." 
"hi."

bandara, ah, maksudku lapangan terbang adalah tempat percuma untuk membaca novel yang terbuka dalam dimensi realiti, tempat yang penuh babak dan drama. semua orang adalah watak yang sedang menjalani plot masing-masing. dan aku sedang membina narasi peribadi untuk setiap kisah yang sedang menuliskan dirinya sendiri di sekitarku.

"bread?"
"honey oat, please." 
"foot long or half?" 
"half." 

tidak perlu ke hutan atau ambil peduli tentang berita ramalan cuaca esok hari. kerana, selain rumah sakit dan tapak perkuburan, lapangan terbang juga adalah tempat percuma untuk menyaksikan pemandangan air terjun yang mengalir jernih dan jatuhan hujan yang tidak tertahan, bila-bila pun waktunya.

"menu?"
"chicken teriyaki, please."

ada dua jenis air mata yang mengalir di sini. dingin dan hangat. tidak perlu diukur suhunya dengan termometer. aku tidak selalu meminta untuk memaknakan tulisan-tulisanku secara literal.

"anything else to add on?"
"no."
"extra cheese?"
"sure."

air mata yang mendinginkan hati,  yang menyejukkan jiwa, yang menyenangkan perasaan mengalir daripada mata air kebahagiaan. seperti di balai ketibaan, ada seorang ibu yang gembira menyambut anak lelakinya yang sudah dewasa pulang setelah sekian lama, atau ayah, seorang askar, yang bertemu bayi kecilnya aman tidur di dukungan. rasa rindu, cinta dan sayang teradun dalam cairan jernih yang mengalir pada pipi yang kering itu. membasahi. mata yang sedang dingin.

"vegetables topping?" 
"tomatoes, cucumbers and lettuces, please."
"that's all?"
"yup."

sedangkan air mata yang hangat, yang sedikit menyesakkan dada mengalir daripada mata air kesedihan. seperti seorang gadis yang melambai ke arah keluarganya di gerbang masuk balai perlepasan untuk meneruskan petualangan jauh di rantau orang, atau sepasang suami isteri yang baru bernikah tiga hari lepas kini harus berpisah berjarak kerana komitmen kerjaya. ada rasa takut mungkin. ada rasa kecewa barangakali, ada bebanan perasaan-perasaan yang berat agaknya pada cairan yang mengalir tanpa bau itu, tidak wangi untuk disebut haruman, tidak busuk untuk dikatakan najis. polos. itulah mata yang sedang dalam kehangatan.

"sauces?"
"honey mustard, bbq, chili and thousand island, please." 
"else?"
"that's it." 

oh ya, hampir setiap hari mataku juga panas kehangatan. ah, tidak. aku tidak menangis setiap hari. tidak ada air yang mengalir keluar. cuma, aku kan selalu ada di tapak pembinaan yang malar terik dan penuh debu. itu menyesakkan mata. tapi setelah selesai di sana, aku akan pulang ke pejabat yang alhamdulillah terlindung dan berhawa dingin. nah, di sini mata ini kembali sejuk dan berada dalam kedinginan.

"want to make it a meal?"
"yes, please."
"cookies or chips?"
"i'll take cookies." 
"so, the cookies? they can be mixed." 
"chocolate chip and oatmeal raisin."


jadi, semua orang di lapangan terbang ini sama ada sedang menuju, menunggu atau meninggalkan hal-hal atau mungkin orang-orang yang sama ada akan menyejukkan atau menghangatkan mata dan pandangan mereka.

"here is the cup and the drink dispenser is over here."
"emm, lemon tea finished? its written here."
"yes but will be refilled shortly."
"i'll wait for it then." 

empat ayat terakhir pada surah ke- dua puluh lima. 
semoga.

"to eat here or take away?"
"take away, thank you."



Monday, October 31, 2016

orang-orang kopi.







orang-orang yang sedang membancuh kopi, dia hati-hati dengan kopi bancuhannya. jangan sampai tertumpah air panas. terlebih gula, terlalu manis kelat. terkurang gula, pahit tidak tertelan. apa pun rasa yang terhasil daripada segala perihal yang di-adun-bancuh-nya masuk ke dalam cawan, yang pertama merasa kopi itu, pastilah dia sendiri. kalaupun kopi itu dibancuhnya untuk orang lain, tetap dia juga yang merasanya dahulu agar rasa kopi itu tidak mengecewakan.

pada kehidupan dunia yang kita jalani, kita akan berjumpa dengan tiga jenis orang.


orang-orang pertama;
--"kopimu sedap, aku suka rasanya begitu."

orang-orang kedua;
--"aku juga suka kopi. tapi, dengan rasa yang sedikit kurang manis berbanding kopimu."

 orang-orang ketiga;
--"emm, aku lebih suka minum teh."









dan kita perlu ketiga-tiganya untuk hidup mendewasa. kita belajar untuk lebih menghargai diri sendiri bersama orang-orang pertama, kemudian kita belajar untuk sentiasa memperbaiki diri daripada orang-orang kedua dan kita akan menemukan perkara-perkara baru melalui orang-orang ketiga.  

persamaan atau perbezaan, semuanya adalah hikmah dan nikmat. 

kan?







:-]







Monday, September 05, 2016

menjadi seorang kau(aku).











"aku sebenarnya ingin menjadi seperti kau."  
"sebelum itu, aku bahkan mahu menjadi seperti kau." 
"heh, kenapa?" 
"aku ingin lebih menghargai diriku sendiri. aku mahu lebih gembira dengan menjadi diriku sendiri. aku ingin lebih mensyukuri apa yang Tuhan telah pasangkan pada pakaian hidupku sehingga penampilanku tampak begitu baik pada pandangan orang lain. aku mahu menjadi kau, menjadi seseorang yang teruja untuk menjadi diriku sendiri."







...









kita tidak diciptakan untuk menjadi orang lain. kita dicipta untuk menjadi diri kita sendiri. bukan orang lain yang menjalani hidup kita atau bukan kita yang menjalani hidup orang lain. tidak salah untuk bercita-cita untuk menjadi seperti orang itu, orang ini, orang begitu dan orang begini selama mereka itu orang yang baik-baik. tapi, skrip hidup setiap orang datang dengan pakej penuh. ada baiknya dan ada buruknya. yang namanya manusia, tidak ada yang seratus peratus baik kecuali para nabi dan rasul.
orang-orang lain, yang kita ingin menjadi sepertinya, kerana baiknya dia pada pandangan kita, apakah kita tetap juga mahu menjadi seperti dia jika kita mengetahui sisi buruknya? apakah kita mahu menjadi seperti dia pada versi yang buruk?
menjadilah diri sendiri dengan mentauladani hal-hal baik daripada orang lain, bukan dengan meninggalkan diri sendiri kerana mahu menjadi orang lain.

 
:) 








Saturday, August 27, 2016

transit.







there are some phases and moments in life that make you pause and reflect; moments where your life thus far flashes before your eyes- who was i? where have i come? how did i get here? and snapshots of memories flash one after the other- all the smiles, all the moments of struggle, the tears, and the hugs; the moments of joy and moments of pain all come through. this happened to me the other day as i was standing, looking outside the window; as still as i was, the world outside was shuffling and moving; everyone was in transit. and i realized at that moment as snapshots started to flash in my mind, that i was in transit too. we’re all in transit. those memories were all snippets of moments that were also just fleeting by, just moving on from one moment to the next.
and that’s the summation of our lives. we are all in transit, hustling, bustling, struggling, exhausting ourselves to make it back home, to make it back to where we came from, back to a place where we no longer will be in transit, a place of permanence, a place of eternity- a place of lasting peace- paradise. Master, please allow us to live our lives in a way that is pleasing to You, please take us in a state that is pleasing to You, and please enter us into Your paradise, please allow us to make it back home to You.





Wednesday, August 10, 2016

tentang kita.









diri dan jiwa kita adalah sebuah puzzle yang belum selesai. masih banyak kepingan-kepingan kecil yang hilang di sana sini, berserakan entah ke mana dan kita harus mencarinya. 
kerana itu, kita melakukan perjalanan-perjalanan. kerana itu, kita bertemu dengan orang-orang tertentu. kerana itu, kita membaca buku-buku yang bermacam ceritanya.
lalu, pada setiap perjalanan yang kita lakukan, pada interaksi antara kita dengan orang tertentu, pada halaman buku yang kita baca, kita akan bertemu kepingan-kepingan kecil yang hilang daripada puzzle kita, yakni seorang manusia yang masih belum cukup mengenali, atau mungkin, kehilangan diri dan jiwanya sendiri.
sebenarnya, tidak ada yang namanya 'kebetulan'. hanya manusia yang tidak mengetahui rencana Tuhan yang sentiasa cantik dan sempurna. seandainya kita yakin pada takdir Tuhan, hidup akan menjadi lebih indah untuk dijalani.







Friday, November 20, 2015

we're all.





we're all hoping, we're all hopeless
we're all thorns and we're all roses
we're all looking down our noses at ourselves
we're all flawed and we're all perfect
we're all lost and we're all hurting
and just searching for somebody to love



   apabila manusia-manusia introvert itu jatuh cinta, mereka tidak pernah menampakkannya terang-terangan pada dunia, tidak pada sesiapa pun. mereka akan cuba menyembunyikannya begitu kemas dalam perkara-perkara yang mereka paling suka. jika dia adalah pencinta kamera, cuba perhatikan foto-fotonya. jika dia adalah penyuka huruf dan kata-kata, cubalah baca tulisan-tulisannya. jika dia adalah penyuka earphone yang disambung pada empitri, cuba dengarkan lirik pada lagu lagu dalam playlistnya. atau mungkin pada buku yang dijinjitnya ke mana saja jika dia adalah penyuka bau kertas.

      mereka begitu.



we're all liars, we're all legends
we're all tens, that want elevens
we're all trying to get to heaven, but not today
we're all happy, we're all hatin'
we're all patiently impatient
and just waiting for somebody to love


we're all good, but we ain't angels
we all sin, but we ain't devils
we're all pots and we're all kettles
but we can't see it in ourselves
we're all livin' 'til we're dying
we ain't cool, but man, we're trying
just thinking we'll be fixed by someone else



   gudang buku(baca; perpustakaan) adalah tempat temujanji paling strategik bagi orang-orang introvert. tempat temujanji yang tidak perlukan suara yang banyak atau tatap mata yang panjang kerana masing-masing akan tenggelam dalam buku. mereka senang lebih banyak berbicara dalam bahasa diam. 

"so, this is our last day here." 
"how fast time flies.." 
"apa plan kau lepas ni?"
"hmm.. tak tahu lagi. kau?" 
"baca buku. menulis. dan mungkin travel dengan kamera kalau ada masa."
"ouh.."


   yang paling memahami orang-orang introvert adalah orang-orang introvert sendiri. jiwa mereka bergetar pada frekuensi yang sama. kerana itu, kadang mereka tidak perlu perbualan panjang untuk tahu apa yang bermain di fikiran masing-masing. kadang cukup hanya mendengar(membaca) dua tiga ayat ringkas, mereka sudah saling tahu. 

"sebenarnya, ada benda yang aku takut." 
"takut apa?"  
"entah lah.." 
"takut kehilangan? takut semua harapan kau tak menjadi?" 
"hmm.." 
"kau tahu kenapa Tuhan bagi rasa takut pada orang beriman?" 
"kenapa?" 
"sebab bila kau takut, kau akan lebih berhati-hati menjaga diri. dan pergantungan kau pada Tuhan akan lebih tinggi. sujud kau lebih dalam. airmata yang jatuh bersama doa kau lebih ikhlas.."



we all talk, but we don't listen
we're all starving for attention then we'll run
we're all paper, we're all scissors
we're all fightin' with our mirrors
scared we'll never find somebody to love


just tryin' to hold it all together
we all wish our best was better
just hopin' that forever's really real
we'll miss a dime to grab a nickel
overcomplicate the simple
we're all little kids just looking for love
yeah, don't we all just want somebody to love?







_________________
maaf, merepek pagi-pagi jumaat ni. jom kahfi.

Friday, October 30, 2015

kawan-kawan klasik.


sk abaka.




bismillah.


pernah ada satu buku yang dulunya paling kita suka baca, tapi keakraban kita dengan buku tu perlahan-lahan berkurangan hari ke hari, mungkin kerana kita bertemu dengan buku-buku lain atau mungkin kerana kita sibuk dengan hal-hal lain selain membacanya. sehingga satu hari, mungkin dengan tidak sengaja, ketika kita tengah sibuk mengemas barang untuk keluar bermusafir, kita menemukan semula buku itu di laci paling bawah almari baju. maka satu persatu ingatan muncul dalam hati kita bahawa hati, jiwa, cita-cita dan impian pernah kita temukan dan tinggalkan di dalam naskhah itu.

pernah? saya pernah. :D



oh ya, sudah lebih dua minggu sejak reunion dengan kawan-kawan klasik, kawan-kawan sekolah rendah. kawan-kawan klasik sebab bila jumpa balik semuanya, satu persatu perkara, memori dari zaman belakang bermain semula di layar memori hitam putih. klasik sebab kita saling bercerita hal-hal klasik semasa kecil, daripada nikmatnya ais limau dalam plastik panjang kedai kak yan, sedapnyaaa, sehingga seronoknya main hujan sepanjang perjalanan pulang balik rumah selepas sekolah dan lari pusing padang sekolah dikejar anjing. haha. klasik sebab kita cerita tentang orang-orang klasik, para cikgu, para pak cik, para mak cik dan orang-orang lejen yang sudah lebih daripada sepuluh tahun tidak berjumpa.

klasik juga sebab kita(saya) 'bertemu semula' realiti kehidupan dan 'bertemu semula' dengan diri sendiri melalui kawan-kawan klasik ini.




...



throwback sebentar. 


sekolah rendah kami terletak di tengah hutan kelapa sawit, yang sebelum itu adalah hutan pokok koko, yang sebelum itu adalah hutan pokok getah, yang sebelum itu adalah hutan.., err, entah, tahu sampai situ jak. ya, sekolah kampung untuk anak-anak kampung. sekolah yang sederhana untuk orang orang sederhana seperti kami.

aturan Tuhan, lepas tamat upsr di sekolah ini, saya ke sekolah asrama penuh di daerah lain. sekolah elit (kononnya), yang ya, pelajarnya pelajar-pelajar bijak pandai. sebelum itu, don't get me wrong kay, saya bukan mahu masuk bakul angkat sendiri. maksud saya, saya berada dalam komuniti orang-orang yang punya jalan hidup yang cerah, ada masa depan yang terjanji dengan kejayaan. hal ini selalu diulang cakap setiap kali perhimpunan oleh cikgu-cikgu, pengetua bahkan para orang-orang besar yang berkunjung untuk majlis-majlis tertentu. kata mereka, anda semua adalah orang yang terpilih. hmm, kalaulah dapat mendengarkan rasulullah saw mengatakan "anda orang yang terpilih untuk memasuki syurga" seperti yang disampaikan baginda kepada para sahabat, oh alangkah...

aturan Tuhan, lima tahun kemudian saya meneruskan pengajian ke kolej matrikulasi. majoriti kawan-kawan daripada sekolah asrama penuh juga masuk ke sini, sementara yang lain bertebaran ke institut lain termasuk ke luar negara. situasinya sama, saya masih lagi berada dalam lingkungan penuh manusia-manusia cemerlang. again, don't get me wrong kay. selangkah lagi untuk ke menara gading, menara yang sentiasa dicanang-canangkan sejak tadika lagi oleh para cikgu.

aturan Tuhan, saya melalui fasa terakhir pendidikan dengan menuntut di universiti. menuntut dalam jurusan yang pasaran kerjanya boleh dikatakan cukup terjamin. masih tetap berada dalam kelompok manusia-manusia cemerlang pendidikannya. still, don't get me wrong kay. maka, habislah pengajian di universiti. baling topi hitam bertali merah. maka graduanlah saya. kira-kira sebulan lepas habis pengajian(belum majlis konvokesyen lagi) saya mula berkerja dengan pendapatan yang lebih dari mencukupi untuk seorang anak lelaki bongsu, bujang tanpa apa-apa tanggungan seperti saya.



ok, habis throwback. 



*bila tulis dan baca balik begini, baru saya sedar betapa jalan hidup saya terlalu mudah dan lurus. semuanya sentiasa bergemerlapan dengan lampu lip lap lip lap. alhamdulillah. tsumma alhamdulillah. sungguh hambaMu ini kurang rasa syukurnya, Allahurabbi.. T_T




...




kembali kepada kawan-kawan klasik. pertemuan yang bermula daripada facebook kemudian berkumpul dalam wassap dan akhirnya be-reunion temu mata di kfc bandar tawau, membawa saya kembali berfikir banyak tentang kehidupan.

saya tidak tahu jalan hidup yang bagaimana setiap dari kawan-kawan klasik ini lalui selepas tamat di sekolah rendah. yang pasti, tidak semua melalui laluan mudah seperti saya. selepas bertemu kembali barulah satu persatu cerita dibuka. ada yang manis indah dan ada juga yang pahit menyakitkan. terlalu banyak hal yang dilalui setiap dari kami. yang bila difikir kembali, saya ingatkan perkara-perkara ini cuma berlaku dalam drama-drama melayu slot akasia tv3. terlalu banyak hal yang entah jika saya sendiri yang lalui, entah di mana saya hari ini. jujur, kawan-kawan klasik ini melalui ujian hidup yang jauh lebih hebat daripada yang pernah saya sendiri lalui. ujian yang bagaimana, biarlah ia tetap rahsia antara kami.

apa yang tetap mengagumkan saya, kawan-kawan klasik ini tetap ceria dan mudah berkongsi cerita meski perjuangan yang mereka sedang lalui sungguh mencabar menurut saya peribadi.

seluruh hal ini kembali membuat saya bermuhasabah panjang, bahawa betapa manjanya saya dengan kehidupan. baru bertemu ujian luka terguris duri bunga sudah mahu dimasukkan dalam wad icu. sedangkan kawan-kawan klasik ini parah ditabrak lori masih tetap gagah mahu berlari menghabiskan marathon mereka. Allahurabbi..

bahkan, dari kawan-kawan klasik ini juga saya belajar, untuk sentiasa melahirkan rasa syukur dan menundukkan rasa sombong riak, kita perlu banyak memberi setiap kali kita merasa lebih. baik dalam hal ilmu pengetahuan, hal hati dan perasaan, mahupun hal materi. meski cuma sedikit, tetaplah sentiasa berkongsi.. begitu.






akhirnya, Alhamdulillah atas kurniaan kawan-kawan klasik ini. :)



Friday, October 23, 2015

rainy days.




daerah istimewa, Jogjakarta.

jalan Jendral Sudirman. di sudut barisan panjang rumah kedai, berdekatan simpang empat berlampu trafik merah hijau kuning adalah toko buku Gramedia. aktiviti berkala bila ada masa senggang bagi Mayra, berkunjung ke toko buku tiga tingkat itu. 

kadang Mayra bukanlah datang untuk mencari buku untuk dibeli, tapi untuk menyambung bacaannya. iya, menyambung bacaannya. ada sebuah buku lama yang sedang dibacanya setiap kali dia bertandang ke toko buku itu. sebuah buku tebal tulisan penulis asia tengah yang diterjemah ke dalam bahasa inggeris, berkulit keras dengan tujuh belas bab kandungannya. setiap kali datang ke situ dia membaca satu bab. buku itu cuma ada satu naskah yang tinggal untuk dijual.

Mayra akan mencapai buku tebal itu dan duduk di sudut, penghujung rak tempat letaknya. sehingga habis membaca satu bab, dia akan bersila di situ tanpa menghiraukan sesiapa pun. jadi, kenapa dia tidak beli sahaja buku tebal itu dan bawa balik baca dalam bilik? entah, saya pun tak tahu. mungkin dia perlu alasan untuk sentiasa datang ke toko buku itu. mungkin ada yang menantinya atau mungkin ada yang dinantinya. entahlah. 

hari itu sepatutnya Mayra membaca bab ke-sepuluh buku itu. tapi, bila sampai ke rak buku tempat letaknya, buku tebal itu sudah tiada lagi. dia cuba bertanya kepada petugas toko. kata mereka, naskhah terakhir buku itu sudah habis. baru sebentar tadi ada orang yang membelinya. ah, sudahlah buku itu buku keluaran terhad, publishernya dari luar negara pulak. ada tujuh bab lagi berbaki untuk dibacanya. dia kecewa. 

turun dari tingkat atas toko buku itu, baru Mayra sedar kota Jogja sedang dituruni hujan. payung pula tak bawa. jadinya, dia memilih untuk menunggu sehingga hujan habis reda. mujur, bersebelahan tingkat bawah toko buku Gramedia ada premis Dunkin Donut. menikmati hujan dengan sebiji donut dan segelas kopi cappucino juga adalah idea yang baik kan.

selepas membuat pesanan di kaunter, Mayra menuju meja kecil di tepi dinding kaca. memerhatikan mobil-mobil yang mengambil giliran untuk melalui simpang empat yang dikawal oleh lampu trafik. sambil-sambil itu, dia ligat berfikir mana mahu cari buku tebal itu. dia mesti habiskan bacaannya. ah, kalaulah orang lain tahu apa rasa membaca buku rare yang best tapi tidak dapat menghabiskannya.. dia menyumpah-nyumpah dirinya sendiri yang degil enggan membelinya saja awal-awal dulu.

ketika itu, segelas kopi sampai di mejanya. tapi bukan cappucino seperti yang dipesannya. yang datang adalah latte. dengan perlahan, Mayra menolak kopi itu.
"maap mas, ini bukan orderan saya."
pelayan yang membawa kopi itu tepinga-pinga sambil melihat semula catatan pada bil. sehinggalah ada suara dari meja sebelah Mayra. 
"mas, itu punya saya mas. latte kan?"
ternyata kopi itu adalah milik seorang lelaki bersweater cotton yang duduk di meja bersebelahan meja Mayra. dari tadi dia situ cuma menunduk. pada kiraan Mayra, mungkin dia sedang tertidur kerana dia duduk membelakangi meja Mayra. tapi, rupanya dia sedang membaca buku. haha, mau hampir tergelak kuat Mayra.

dalam pada itu, Mayra hampir menjerit girang bila terlihat buku yang dipegang lelaki itu adalah buku yang dibacanya di toko buku. mahu ditegurnya lelaki itu, malu pula. dan tidak lama..
"eh, kamu yang selalu duduk di ujung rak sambil membaca buku kan?"
ah, ternyata lelaki itu memerhatikan Mayra.
"err, iya. mungkin itu saya. kamu juga membaca buku sama? itu, buku ditanganmu. buku itulah yang selalu saya baca juga." 
"oh, iya. maap, saya terlanjur membelinya. mahu dibuat rujukan. saya selalu datang ke gramedia untuk membeli buku ini, tapi setiap kali itu juga buku ini ada ditanganmu, yang  ya, duduk sendirian di ujung rak buku."
"iya, gapapa. buku itu bukan punya saya. terserah mereka mahu jual kepada siapapun."
"kamu sudah di bab sepuluh ya? masih ada lipatan tandanya di sini. masih ada tujuh bab ke depan. sayang sekali.."
lelaki itu kembali meneruskan bacaannya. Mayra tersenyum tawar. pesanannya baru sampai. dia segera menikmati donut dan kopinya. setelah meminta password wifi daripada pelayan di situ, dia pun hanyut dalam dunia siber dalam ponselnya.

setelah hujan reda, Mayra bersiap untuk pulang. lelaki meja sebelahnya sudah pun meninggalkan dunkin donut itu lebih awal. Mayra menuju ke kaunter untuk membayar donut dan cappucino yang dipesannya.
"semuanya dua belas ribu mbak. oh ya, ada yang titip buku ini buat mbak."
juruwang itu menghulurkan sebuah buku tebal. buku yang dibaca lelaki tadi. buku yang setiap kali ke Gramedia, Mayra baca satu bab. bersebelahan cover depan buku itu, ada catatan yang ditulis lelaki bersweater cotton tadi.
--nah, buku ini kamu ambil ya. saya sudah habis. saya juga membacanya di toko buku itu, lama sebelum kamu. ternyata kamu datang mencarinya lagi hari ini. ternyata juga, bila hari hujan kamu suka singgah di kedai kopi. itu, naskhah terakhir di toko buku, kalau bukan saya, orang lain pasti akan membelinya sebelum sempat kamu menghabiskan. jadi, err, anggap saja ini hadiah daripada teman yang punya jiwa sama kayak kamu.  sampai ketemu lagi..

.


Thursday, August 06, 2015

malu pun tak boleh pi mana.




petang bakda asar dua hari lepas, maahad didatangi oleh seorang pak cik tua, rambutnya sudah ada yang putih, dengan motor kapcai yang agak lusuh. masa itu, aku dan ustaz hairi sedang reverse kereta mahu keluar. pak cik tua ini nampak sedang mencari cari seseorang, menjenguk jenguk di luar pagar. kami turun dari kereta dan bertemu dengan beliau. sambil menghulurkan salam, aku bertanya,

"ya pak cik, ada nak jumpa orang ke?" 
"saya nak tanya la, kat sini ada kelas belajaq al-quran tak? untuk orang dewasa? err, saya la tu yang nak belajaq."


perbualan kami diteruskan oleh ustaz hairi. pak cik ini bercakap dengan loghat utara utagha. pekat sungguh. aku tak reti nak tulis dalam loghat utagha, so anda bayangkanlah dialog dia ni dalam loghat utagha ya.

"setakat ini belum ada lagi pak cik. ada kelas untuk budak budak pelajar je. tapi kalau ada permintaan, kami boleh aturkan." 
"macamni, saya ni dah lama cari tempat nak belajaq al-quran. saya kerja bawa bas. dari pulau pinang ke larkin(johor bahru) ke singapore setiap hari. biasanya dua hari sekali saya sampai larkin saya akan rehat dari pukul 11 pagi sampai 8 malam. masa tu memang saya free. jadi, daripada tak buat apa-apa, baik saya cari tempat belajaq al-quran." 
"oh.. dah berapa lama bawa bas pak cik? larkin tinggal kat mana?" 
"dah 12 tahun. ulang alik pulau pinang ke larkin ke singapore. kalau kat larkin saya singgah je kat mana mana masjid. motor ada boleh pusing pusing. rumah saya kat pulau pinang. kalau balik pulau pinang takdak masa, ye la dengan family, kena pi pasaq, pi sana, pi sini. memang takdak masa. saya ni pun dah semakin tua, masih lagi tak reti baca al-quran. biasanya kalau kat masjid saya ambil muqaddam lepas tu cari mana mana tempat tersembunyi belajaq sendiri. malu kat orang. kadang kadang saya tulis sendiri alif ba ta dalam kertas. tapi bila fikir fikir balik, tak boleh macamni.. malu pun tak boleh pi mana.." 
"betul pak cik.." 
"sebenaqnya ada ramai ja orang yang masih tak reti baca al-quran. yang tua tua macam saya pun ramai. tapi semua malu nak belajaq. itulah, malu pun nak buat apa kan.. sampai bila nak malu, tak boleh pi mana lah.. malu dengan Tuhan tak pa, malu dengan manusia tak pi mana lah.. jadi, saya ingat nak datang belajaq waktu tengahari. boleh tak ustaz?"
"betul tu pak cik. boleh je. ok macam ni la, pak cik ambil nombor tepon saya. saya pun ambil nombor tepon pak cik. nanti, bila pak cik free boleh datang sini. esok atau lusa pun boleh."

lepas tu ustaz hairi dan pak cik tu bertukaq nombor telefon. aku memandang pak cik ini dengan penuh kekaguman. dia orang biasa biasa yang luar biasa dan pasti disayangi Tuhan. aku setuju dengan setiap kata katanya. banyak hal hal kebaikan yang kita tangguh hanya kerana malu dengan orang. tapi, akan ke mana kita dengan sikap malu itu? cukuplah malu dengan Tuhan dengan dosa dosa kita..


______________________________________________
maaflah, kadang tulis guna gantinama 'aku'. kadang guna 'saya'. ikut mood tulisan. huhu.

Tuesday, August 04, 2015

jogja; cerita orang-orangnya.



“Perhaps travel cannot prevent bigotry, but by demonstrating that all peoples cry, laugh, eat, worry, and die, it can introduce the idea that if we try and understand each other, we may even become friends.” 
-Maya Angelou



insinyur pak priyanto yang sungguh lejen.


insinyur pak priyanto melakar petanya.

ya, kami sesat. dan cara terbaik untuk keluar dari kesesatan adalah dengan bertanya pada yang tahu jalan. siapa lagi yang lebih tahu jalan jalan di kampungnya kalau bukan orang kampung itu kan. jadi, kami memutuskan untuk mencari orang orang terdekat untuk bertanya arah. alangkah bertuah, kami ditemukan dengan orang yang paling tepat untuk mendapatkan arah, pak priyanto.

pertanyaan awal berkaitan arah yang kami cari membawa kepada cerita yang lebih panjang dan menarik. sebaik mengetahui kami sedang mencari arah, pak priyanto bertanya 'kalian ada peta?' dan ya, kami langsung tak ada. dengan tenang pak priyanto berkata 'nggak apa-apa.. saya lukis saja.'

pak priyanto sebenarnya sedang lumpuh, tubuh bahagian kanan. tangan kanannya tidak lagi mampu digerakkan, seperti dalam gambar ada tongkat di tepinya. dan saya kira pak priyanto adalah right-handed sebab pada pengamatan saya, beliau agak kekok menggunakan tangan kirinya. ini sebenarnya yang buat beliau lebih luar biasa pada pandangan kami.

di atas kertas putih (sebenarnya itu adalah salinan slip pendaftaran mata pelajaran anaknya yang sedang menuntut di universitas gadjah madah, ugm yogyakarta) beliau melakar peta. sambil melakar itu, beliau bertanya kepada kami, 'kalian dari mana?' malaysia pak, johor bahru. 'masih kuliah? liburan ya?' nggak pak, baru saja selesai. sudah kerja. 'ouh, kalian kuliahnya apa?' campur-campur pak, tapi semua engineering, err insinyur. 'oh.. sama kayak saya., insiyur apa?' err, kalau saya civil, yang lain ada mekanikal, ada elektrikal dan ada chemical. 'oh, kamu sivil? sama kayak saya, coba kalau mahu buat bangunan, apa yang pertama perlu ditahu?' err, maksud bapak apa? saya kurang pasti pak. saya lagi buat jalan. 'ya, sama juga. itukan ada namanya es dan el. position and elevation. setiap sesuatu mesti ada mulanya. naa, kalau construction itu mulanya es dan el.' oh, itu. iya pak, betul, malu saya pak. haha.

ternyata, pak priyanto adalah insinyur civil juga kayak saya. ah, macam berjumpa senior sendiri pulak. daripada ceritanya, pak priyanto sebelum ini mendapat pendidikan kejuruteraan di sebuah institusi-yang-saya-lupa-namanya di kota jakarta. beliau banyak mengendali projek projek pembinaan sewaktu sihatnya sebelum dia lumpuh. ternyata yang hilang dari pak priyanto cuma kemampuan fizikalnya, tapi tidak kegeniusannya.

yang paling mengagumkan kami adalah peta yang dilukis tangan pak priyanto adalah super duper tepat. 'jalan ini kalian terus saja, nanti ada simpang ke kiri. jangan belok. ambil yang di depannya. kemudian terus lagi 80 meter, nanti ada jumpa simpang tiga. belok kanan.' dengan keadaannya, saya kira pak priyanto itu cuma duduk duduk di rumahnya. entah sudah berapa lama beliau tidak keluar berjalan. tapi, masih mampu melakar sebuah peta yang sangat tepat pada posisi dan jaraknya.

ini peta yang dilukis dengan tangan kiri pak priyanto.


lagi mengagumkan, beliau ada bertanya ke mana saja destinasi kami. dan setiap tempat yang kami sebutkan, beliau dengan bersaja menyatakan berapa jauh jaraknya dari kawasan tempat menginap kami sekali dengan cara bagaimana mahu ke sana. 'borobudur? 27 kilometer, kalian bisa naik bis jogja-magelan. volcano merapi? ya, lebih kurang, 27 kilometer juga. itu di kaliurang. prambanan? 17 kilometer. bis transjogja, naiknya di sd pujo ke arah prambanan. nanti akan tukar bis di hartel sebelum tiba di prambanan.' 

pak priyanto itu sangat detail bila bercakap soal kuantiti, jarak dan prosedur. ya, ini perkara paling basic untuk menjadi seorang jurutera yang bagus. dan saya masih jauh dari kelejenan pak priyanto. jadi, saya kira pak priyanto adalah inspirasi yang baik untuk saya. salute pak!




mbak ria yang ceria dan enak jagung bakarnya.


menikmati jagung bakar mbak ria di parangtritis

sore itu, usai daftar masuk di viavia guesthouse, kami langsung untuk ke destinasi yang sudah kami tetapkan dalam jadual. sebenarnya semua agak lari daripada plan asal. ada dua tiga tempat target untuk sore itu, tapi akibat ketirisan masa sepanjang proses mencari viavia guesthouse, kami hanya sempat berkunjung ke pantai parangtritis. ya, sore sore ke tepi pantai tidak lain adalah untuk menangkap sunset. tapi, matahari agak segan silu untuk bertemu kami. beliau hanya berselindung di kawanan awan awan senja. 

berjalan jalan di sepanjang persisiran pantai menemukan kami dengan sebuah kenangan yang sangat indah, setidaknya bagi orang orang yang suka kepada nuansa melankolik (saya la tu). apa tidaknya, dengan langit warna jingga, belai bayu laut lembut, deruan ombak yang belari ke gigi air tepian pantai, dengan aroma jagung bakar, dan paling spesial ada persembahan akustik live daripada pengamen buat kami. saya yakin, inilah impian para manusia manusia puisi! ini video yang sempat kami rakam;




sempat juga bertukar tukar cerita dengan mbak ria, penjual jagung bakar tempat kami lepak lepak sore itu. sebaik saja tahu kami ini dari malaysia, mbak ria jadi semakin suka untuk berkongsi cerita. menurutnya, dia dahulu pernah berada di malaysia. dia pernah berkerja di sebuah kilang di melaka. mbak ria itu orangnya lucu dan periang. semasa di malaysia dia selalu dikatakan sombong oleh kawan kawannya. lho, kenapa mbak? 'diorang kata, saya ini ria' itukan nama mbak, kenapa pula? 'ya, itulah sebabnya.. ria itukan sombong.. kamu ini ria kata mereka.' ouh, 'riak'.. hahaha. ketawa kami bersatu dengan deru ombak.

perbualan itu jadi lebih lucu sebab di pihak kami cuba untuk berbahasa indonesia sedangkan mbak ria teruja untuk menunjukkan kemampuan bahasa malaysianya. ya, sudah terbalik. tapi, bagi saya ini sungguh menarik dan indah sebab masing-masing saling menghargai dan meraikan. senyum.

mbak ria ada dua orang anak. dia dan suaminya masing masing berkerja. rumahnya ada berdekatan kawasan parangtritis. setiap hari beginilah rutinnya, berniaga sehingga malam untuk menyara keluargnya. sungguh saya salute mbak ria!



keluarga nuha yang penuh wawasan dan cita-cita.


rumahnya ibu(paling kiri) dan bapa(paling kanan) nuha.

nuha adalah teman kak mar semasa di turki. macammana mereka boleh kenal, saya kurang tahu. tapi, nuha ada keluarga yang sangat bahagia. kalian boleh baca apa ceritanya di sini.

ibunya nuha, ibu ning berbesar hati menjemput kami untuk datang ke rumahnya setelah mengetahui kak mar akan berkunjung ke jogja. melalui wassap, kak mar dan ibu ning berhubung. sebetulnya kami hampir membatalkan rancangan ke rumah ibu nuha kerana sudah terlalu lewat daripada parangtritis. tapi, memikirkan ibu ning sudah membuat persediaan untuk menyambut kami dan kesungguhannya untuk tetap menerima kunjungan kami meski lewat, akhirnya, membawa kami untuk sampai ke rumahnya. 

sampai di simpang masuk ke dalam perumahannya, anak bongsu ibu ning yang datang menjemput kami dengan basikal. sepanjang berjalan masuk ke dalam taman perumahan menuju rumah ibu ning, sangat terasa suasana tenang dan damai. terasa suasana desa walaupun itu sebenarnya kawasan kota. 

di rumah nuha, kami bertemu ibu ning dan bapanya. disajikan dengan teh poci, buah rambutan dan kuih bakpia, kami berkongsi pelbagai cerita antara dua negara. bapa nuha banyak bercerita tentang beda kemajuan antara negaranya dan negara lain terutama malaysia. topik yang paling saya ingat adalah cerita beliau tentang industri pembinaan. di negara lain, dana dan kos akan dikeluarkan oleh kerajaan dan para kontraktor hanya perlu menyatakan berapa jumlah yang diperlukan untuk menyiapkan sesuatu projek. maksudnya konsultan dan kontraktor bebas menghasilkan rekaan dan kiraan kos optimum dengan kualiti terbaik tanpa perlu terikat dengan kos yang kecil. sedangkan di indonesia, kos dan dana telah ditetapkan oleh kerajaan kemudian konsultan dan kontraktor perlu menyiapkan projek mengikut kos tersebut meski ianya kecil atau sedikit. sebab itulah banyak infrastruktur awam di indonesia kurang berkualiti dan tidak maju berbanding negara lain. begitu menurut beliau.

semasa pulang sekali lagi anak bongsu ibu ning menghantar kami keluar ke simpang jalan untuk mengambil teksi pulang ke tempat penginapan. sepanjang perjalanan keluar kami berbual bual dengannya. katanya dia paling suka subjek matematika. dan impiannya mahu menjadi doktor atau insinyur. untuk melanjutkan pelajaran nanti, negara pilihannya adalah german. semoga sukses dik, amin.



...



dengan begitu, hari pertama kami di jogja berakhir. satu hari yang penuh dengan momen, cerita dan pengajaran. dan kami masih ada lagi tiga hari untuk dinikmati di kota jogja. mengembara itu memang penuh dengan kejutan yang mengujakan! 




_______________________________________________________
* fuhh, bersambung jugak entri tertangguh tangguh ini! 
** ada banyak gambar tak sempat(baca; malas) nak masukkan. haha.

Wednesday, July 29, 2015

sebelas hentian.






"hari ni dia baca buku apa?"

"langit vanilla."

"buku tu pun kau ada jugak?"

"ada. hampir khatam."



setiap pagi dari rumah ke tempat kerja, Ajam naik lrt pukul 7.30 pagi.  sampai ofis pukul 7.55 pagi. sebelum sampai ofis, ada sebelas hentian lrt. Ajam perasan, pada dua hentian pertama akan ada seorang gadis naik. Ajam bukanlah pengusha liar manusia lawan jantinanya. tapi sebab gadis tu sentiasa naik lrt dengan buku. sepanjang perjalanan gadis itu akan tekun membaca bukunya. dan hampir setiap buku yang dibaca gadis itu ada juga di rak buku Ajam. Ajam suka melihat buku apa yang akan dibawa gadis itu setiap pagi dan dia akan cuba recall balik isi kandungan buku tu, kalau-kalau dia pernah membacanya. setiap kali gadis itu larut dalam bacaannya, semacam dia ada di dunia lain. tidak peduli apa yang berlaku di sekelilingnya. sebab tu dia tidak pernah perasan ada orang(Ajam) yang mengamati buku yang dibacanya. 

di hentian ke-sebelas, Ajam akan turun dan gadis itu meneruskan perjalanan dengan bukunya.



....




"hari ni dia minum apa?"

"caramel latte."

"banyak tak orang pesan hari ni?"

"boleh la."



setiap petang dari tempat kerja pulang ke rumah, Lynn naik lrt pukul 5.10 petang. sampai rumah pukul 5.35 petang. sebelum sampai rumah, ada sebelas hentian lrt. Lynn perasan, pada dua hentian pertama akan ada seorang lelaki naik. Lynn bukanlah suka sangat tengok lelaki sembarangan dengan saja-saja. tapi sebab lelaki tu sentiasa naik lrt dengan setin air kopi. Lynn berkerja sambilan di sebuah kedai kopi, jadi dia sudah belajar hampir semua jenis bancuhan kopi yang popular. Lynn suka melihat kopi apa yang dibawa lelaki tersebut kemudian membayangkan bagaimana untuk membancuhnya dan berapa cawan bancuhan kopi itu dibuatnya untuk sepanjang hari itu. tetapi lelaki itu tidak segera minum tin kopi yang dibawanya. sebaik naik ke lrt, dia mesti akan terlelap. sama ada berdiri atau duduk. dia hanya akan tersedar bila tin kopi itu hampir terlepas dari tangannya setiap kali lrt berhenti.

di hentian ke-sebelas, Lynn akan turun dan lelaki itu akan tersedar lagi dari lenanya. kemudian dia akan membuka penutup tin kopi dan mula meneguknya. dan lrt pun meneruskan perjalanan.



_________________________________________
thanks for keep on reading my random stuff. i'll write more. :)

Thursday, June 25, 2015

scar.




"scars; do you have any?"
"dude, how i really wish i get a new one.. ferari roshe, maybe?"
"i said scar, not a car.. and ferrero rosche you mean? that's chocolate, mate."
"ouh, scar.. haha. sorryyy.. hmm. i think i have one. yup, here at my left elbow. got this from a terrible bicycle accident few years back. why asking? so, now you are selling medical product to remove scar? hpa? qu puteh? ambi pur? eh, that's car perfume.."
"no lah.. do you regret having them? its make you look ugly isn't it? but still, you are ugly even without it. haha. kidding."
"cis, how dare you.. regret? emm, maybe not anymore. for me, scar is kind of a memory. and memories can means a lot. it teach a lot too. the bleeding will stop. pain will disappear. in the end of the day, all left was just the beautifully engraved scar, as a mark that the wound is now healed and as a proof that you're strong enough to have gone through that. scars not necessarily represented as a bad thing."
"but how about inner scars? how to describe that?"
"inner scars is all about feelings and emotions. sometimes, when we came across some old heartbreaking memories from the past, we smiled while a drop of tear falling through our cheek. sometimes we just gave out a long 'sigh' with a smile at the end of it. for me, that's the form of inner scar. a mark that can be seen. a mark that you are now recovered. a proof that you're strong enough to have gone through that."
"time treat better than anything right?"
 "yup. by Allah's will.."

____________________
*grammar yang bertaburan umpama bintang bintang di angkasa..  )-_-(

Monday, May 18, 2015

of trial and love.




Seluk poket seluar. Sambil tarik keluar kotak Winston Putih, Uncle Ben berkongsi kata-kata ini.

"Cinta adalah ujian. Dan ujian terbesar adalah pada apa atau siapa yang paling kau cinta. Kau hisap rokok?"

Aku geleng sambil senyum.

Jeans Levi's koyak lutut. Jaket Denim, dibiarkan tidak berbutang menampakkan baju pagoda lusuh yang dipakainya di dalam. Selipar jepun.

Kotak Winston Putih ditepuk-tepuk pada telapak tangannya. Sebatang rokok ditarik dari kotak. Sua ke mulut. Tangannya kembali ke poket. Keluarkan pemetik api.

Aku datang untuk tengok-tengok seluar. Ini kali pertama aku datang ke situ. Aku dengar cerita member-member, katanya bundle area sini barang bagus-bagus, murah pulak tu. Pusing-pusing, aku akhirnya jumpa sehelai di kedai ni. Kain bagus lagi, cuma bottom dia lebar. Aku bukan reggae. Jadi, aku minta Uncle Ben repair bagi kecil sikit. Dia cas RM 2 untuk repair. Seluar tu aku tawar RM 30. Not bad la. Kalau masuk butik mahu sampai seratus lebih. Tak masuk GST lagi.

Asap keluar masuk mulut Uncle Ben. Jarum pun keluar masuk kain. Serentak. Sebelah tangan pegang kain, sebelah pegang rokok. Power Uncle Ben ni. Dalam pada itu, aku tekun dengar sambungan ceritanya. Aku memang suka dengar cerita-cerita penuh falsafah dari orang-orang lama.

"Aku dulu pernah ada bini. Dia orang Perak."

Aku menangkap ada perkataan 'pernah' dalam ayatnya. Belum sempat aku tanya Uncle Ben sudah bagi jawapannya.

"Dia meninggal eksiden empat tahun lepas. Masa tu dia mengandung anak pertama kami. Kau tau macammana aku rasa masa tu? Ah, kau mana tau. Kau budak lagi. Kau pernah sekolah kan? Mesti kau tau apa akibatnya kalau gagal ujian.."

Ya. Gagal dalam ujian adalah sesuatu yang agak menyebalkan. Aku tahu apa rasanya sebab aku bukannya student genius, apa lagi yang jenis rajin belajar. Bila gagal ni, dia buat kita mencari sesuatu untuk disalahkan. Masa tak cukup lah, soalan luar topik lah, tak sempat prepare lah, macam-macam lagi lah. Padahal salah sendiri malas belajar.

"...Ya, aku pernah gagal. Aku salahkan semua orang. Dan paling teruk aku salahkan takdir. Kalau gagal ujian di sekolah paling-paling kau kena marah cikgu atau mak bapak kau. Kalau gagal ujian kehidupan, kau fikir siapa yang marah? Tuhan yang akan marah kau. Tuhan... Kau sembahyang tak?.."

Aku angguk.

"...Itu kau jangan tinggal."

Uncle Ben senyap sebentar. Bunyi mesin jahit dan hingar bingar kawasan bundle berdekatan bersatu mengetuk gegendang telingaku macam pancaragam. Lepas 10 minit Uncle Ben sudah siap jahit. Dia suruh aku try dulu. Aku masuk fitting room. Aku tak try pun. Saja masuk. Nak hadam kata-kata Uncle Ben tadi. Aku keluar balik. Uncle Ben mengelamun panjang. Mungkin fikirkan arwah isterinya.

"Dah ok."
"Baguslah. Pasal cerita aku tadi. Aku sebenarnya cuma nak pesan, hati-hati bila kau menjatuhkan cinta. Kalau kau silap, maka kau akan gagal ujian paling besar."

Aku hulur not RM 50. Uncle Ben pulangkan not RM 10 dua keping. Dia kata halal lah dua ringgit tu. Lepas salam aku, Uncle Ben buka radio. Suria Cinta bersama DJ Lin. Perghh, memang lejen betul jiwa Uncle Ben ni.

Well, haritu sekali lagi aku belajar dari pengalaman orang.


__________________________________________
*ini cuma cubaan untuk menulis dengan penuh indie. haha. buruk betul.


Wednesday, April 29, 2015

efflorescence.




we go hideaway in daylight
we go undercover, wait out the sun
got a secret side in plain sight
where the streets are empty
that's where we run 
everyday people do
everyday things but i
can't be one of them
i know you hear me now
we are a different kind
we can do anything 
we could be heroes
we could be heroes
me and you 
anybody's got the power
they don't see it
cause they don't understand
spinning round and round for hours
you and me we got the world in our hands 
all we're looking for is love and a little light
love and a little light 
we could be heroes
we could be heroes
me and you 
we could be
-Heroes 


Thursday, April 09, 2015

masa masa menunggu.




"Menurut mak cik, kita semua adalah orang yang menunggu."

Begitu kata mak cik yang ditemui gadis di stasiun kereta api. Mak cik dan gadis sama sama sedang menunggu kereta api yang dijadwalkan tiba sepuloh minit lagi. Mak cik sedang memangku anaknya yang sedang tidur lena. Sambil menepuk nepuk peha anaknya, mak cik menyambut ajakan gadis untuk bercerita.
"Betul. Gadis setuju."
"Menurut mak cik, Tuhan sengaja memberikan kita masa masa menunggu ini."

Entah bagaimana perbualan bisa berlaku antara mereka, padahal gadis adalah orang orang introvert, orang orang yang paling sukar memulakan perbualan. Tapi, kali itu gadis yang pertama kali menyapa mak cik. Mungkin kerana gadis sudah terlalu bosan; talipon pintarnya sudah kehabisan bateri. Tiada media sosial untuk memuatnaik status, tiada game untuk dimain dan tiada pemain muzik untuk menjadi halwa telinga.
"Mengapa ya?"
"Menurut mak cik, Tuhan sebetulnya mahu menguji kita dengan bagaimana kita akan mengisinya..." 

Menunggu bas dengan mendengar lagu lagu di empitri. Menunggu hujan berhenti dengan mencari secawan kopi. Menunggu rasa mengantuk di setiap malam dengan menulis. Menunggu terbit matahari setiap pagi dengan membaca buku. Menunggu matahari tenggelam penuh di ufuk barat dengan menangkap momen gambarnya lewat kamera. Itu antara yang menjadi kebiasaan gadis.
"..lebih lebih lagi jika yang kita tunggu itu adalah sesuatu yang besar kepentingannya."

Gadis berfikir, apa saja perkara perkara besar yang pernah ditunggunya. Keputusan peperiksaan? Tawaran melanjutkan pelajaran? Jawapan temuduga? Fasa itu semua sudah berlalu. Gadis sendiri sudah tidak ingat lagi apa saja yang dilakukannya ketika masa masa menunggu itu.

Gadis berfikir lagi, apa pula perkara besar yang sedang ditunggunya? Oh ya, yang itu.. Mak cik meneruskan lagi ceritanya.
"Menurut mak cik, apa yang bakal diperolehi pada akhir itu bergantung pada apa yang kita isikan sepanjang masa masa menunggu itu. Seperti kamu nak, kalau kamu sedang menunggu pasangan hidup yang baik, maka isikanlah masa masa menunggumu itu dengan perkara yang baik baik. InsyaAllah, kamu akan beroleh seseorang yang baik di akhir masa masa menunggu itu."

Ah, mak cik tahu apa yang sedang difikirnya.
"Menurut mak cik awal tadi, setiap kita adalah orang yang menunggu. Jadi, kalau boleh gadis tahu, perkara apa yang paling besar mak cik sedang tunggu sekarang? 
 "Perkara paling besar yang mak cik tunggu ini, kamu juga sedang menunggunya nak. Bahkan, semua orang sedang menunggunya. Mak cik takut sekali kalau kalau mak cik lalai dalam mengisi masa masa menunggu ini dengan dosa."
"Apa itu mak cik?"
"Kematian nak. Kita semua sedang menunggu kematian." 


Itulah sepuloh minit menunggu kereta api yang paling bermakna dalam hidup gadis.


Sunday, March 29, 2015

carpe diem.




sudah melepasi tengahari, langit kekal cerah. ia adalah salah satu bangunan tinggi yang berdiri di antara kumpulan pencakar langit di tengah kota pesat itu. perkarangan luas hadapan binaan megah itu sedikit redup kerana matahari tersembunyi di bahagian belakangnya yang sedikit mengarah ke barat. reka bentuk arkitektur yang rare, susun atur bangunan bangunan yang strategik dan landskap yang alami menjadikannya latar belakang yang cukup cantik untuk apa-apa gambar yang di ambil dari sudut yang tepat. tidak hairan kawasan itu dibanjiri tangan-tangan berkamera pelbagai jenis, daripada kamera handphone 3 megapiksel sehinggalah dslr para juru profesional.

penat berjalanan berseorangan sedari awal pagi, Gray berhenti rehat di bangku kosong berhampiran. kameranya juga sudah hampir kehabisan bateri. baik tukar dulu sebelum dia terlepas momen momen menarik di perjalanan seterusnya. haus, Gray keluarkan 100 plus dari poket sebelah kanan beg sandangnya. ah, Gray terlupa lagi. poket kanan itu tempat letak petanya. botol 100 plus ada di poket sebelah kiri, Gray mengalih tangan mencapainya. dua tiga teguk yang panjang itu adalah nikmat yang tidak-akan-tergambar dengan apa apa pun gabungan kata daripada dua puluh huruf rumi yang ada. 

Gray membelek gambar gambar yang ditangkapnya sepanjang perjalanan bermula dia menapak kaki turun daripada bas di awal ketibaannya di pitu masuk kota sehingga dia melabuhkan duduk di bangku kayu itu. gambar gambar itu ada yang terlebih terang. ada yang terlebih gelap. ada yang fokusnya meliar entah ke mana. tak banyak yang menjadi. biasalah amatur..

bersebelahan bangku adalah pohon yang daun keringnya sentiasa gugur. kemudia pada masa itu, seorang lelaki tua datang dengan penyapu dan penyedok. kalau masa di u dulu, tukang sapu daun sepertinya bukanlah orang yang disenangi para penduduk kolej kediaman. sebab mereka gunakan mesin blower untuk mengumpulkan daun daun kering. ya, itu lebih canggih dan cepat berbanding menyapu. cuma ada masalah sikit, bunyinya bising! habis merana orang orang yang tengah konsentret studi tidur.

lelaki tua menyapu perlahan lahan. sesekali dia berhenti, memerhatikan orang orang yang datang ke tempat itu. sesekali itu juga dia tersenyum sendiri sebelum menyambung sapuannya. Gray segera membuka penutup lensa, menunggu momen terbaik untuk menangkap masuk lelaki tua itu ke dalam kameranya. Gray dapat lima enam gambar sebelum lelaki tua itu beralih ke pokok yang lain. 

bagus, Gray berjaya  menangkap senyuman lelaki tua itu.

ada sesuatu yang menarik pada senyuman lelaki tua ini, ianya tampak lebih tenang dan bahagia berbanding orang orang yang sedang teruja bergambar di hadapannya. senyuman yang lebih ikhlas mungkin. lama Gray berfikir apa sebabnya. dan, akhirnya Gray berjumpa jawapannya;

ianya adalah tentang kamera!

mungkin kerana orang orang itu tahu ada kamera yang sedang menangkap gambar di hadapan, orang orang itu haruslah berusaha tampil paling menarik, siapa yang mahu kelihatan buruk dalam gambar? justeru senyum di hadapan kamera adalah kerana mahu menunjukkan mereka sedang gembira,
"i was here and literally i'm happy as you see!"
sedangkan lelaki tua itu tidak tahu pun ada kamera sedang menangkap sosoknya. dia senyum tanpa memikirkan pandangan orang lain kepadanya. dalam hatinya mungkin yang ini, 
"they were here and i'm happy to see them happy."


yup, happiness come from within.


Sunday, January 25, 2015

sepasang sepatu.




ini adalah kisah sepasang sepatu yang diceritakan oleh si penulis. mereka adalah sepasang alas kaki yang dibuat oleh sang tukang. iya, saat mereka siap diperbuat, keduanya kelihatan begitu cocok dan sepadan. bahkan ia diakui oleh sang tukang sendiri bahwa ia adalah masterpiece beliau yang unggul. belum pernah sang tukang dapat menghasilkan sepasang sepatu yang luar biasa cantik seperti mereka.

sang tukang tidak berniat mahu menyimpan mereka kerana sang tukang tahu sepasang sepatu bukan dicipta untuk disimpan di lemari kaca, menjadi pameran sehingga ia lapuk berhabuk. justru, sepasang sepatu adalah pengembara bebas. mereka akan melangkah ke mana saja di dunia ini selagi tapak mereka tidak haus dan kulit mereka masih tetap utuh.

namun sayang sekali, sepasang sepatu ditakdirkan terpisah saat mereka memulakan perjalanan akibat sedikit salah faham antara pengangkut barang yang membawa kepada pertengkaran kecil antara mereka. sepasang sepatu terpaksa membawa haluan masing masing. dan akhirnya sepatu kanan terlanjur menaiki kereta api ke utara sedangkan sepatu kiri tertinggal di belakang sehingga ada yang membawa naik ke kapal menuju selatan.

maka sepanjang tempoh perpisahan itu, keduanya tidak lagi menjadi sepatu bebas, bahkan terbiar lusuh dalam longgokan barang buangan. masing masing hilang upaya untuk melangkah. bukankah mustahil sepatu kanan bisa begerak ke hadapan tanpa sepatu kiri menyokongnya di belakang. dan begitu pula sebaliknya.

dengan begitu, barulah rasa rindu memekar dengan penuh lebat antara keduanya. mereka sadar bahwa mereka azalinya dicipta untuk hidup berdua, dan memilih untuk melangkah sendiri artinya memutuskan perhubungan yang menjadi asas kepada kekuatan dan kebebasan mereka. maka dalam sesal kesunyian itu, keduanya mula menghantar doa doa semoga mereka dipertemukan kembali.

nah, begitulah kisah sepasang sepatu setakat yang si penulis tahu. apakah mereka akan bertemu kembali, si penulis juga tidak pasti. terpulang kepada takdir mereka.