


"i like to be alone but don't get me wrong,you have always been a part of my solitude."
___
*ah, so many drafts. let them go one by one, shall we?



"i like to be alone but don't get me wrong,you have always been a part of my solitude."
"hei, leng zai.. leng lui.. mau beli air tin? saya ada jual."
"air apa ada uncle?"
"kopi ada?"
"ada.. ada.. mari.. you orang sendiri tengok dalam kotak."
"kopi ada satu saja. siapa mau?"
"aiya, kopi sudah habis. takpa la uncle."
someone told me long ago
there's a calm before the storm
i know it's been comin' for some time
when it's over so they say
it'll rain a sunny day
i know shinin' down like water
i want to know
have you ever seen the rain?
i want to knowhave you ever seen the raincomin' down on a sunny day?
yesterday and days before
sun is cold and rain is hard
i know been that way for all my time
'til forever, on it goes
through the circle, fast and slow,
i know it can't stop, i wonder
"manyak panas ya ini hari, amoi?"
"ah, iya uncle."
"ini macam lah bagus. itu matahari sekali-sekali datang, baru lah seronok.. saya manyak suka cuaca ini macam."
"eh, kenapa uncle?"
"senang penat maa kalau cuaca panas. saya kayuh basikal sikit, sudah basah berkeringat. ini musim hujan mari, manyak syok la. nyaman.. sejuk.. tapi itu la, saya jual air tin sejuk takda laku sangat lah. orang suka minum yang panas-panas kalau musim hujan. tapi, takpa.. ini langit suruh kita belajar maa, hujan ka panas ka, semua ada bagusnya. itu orang yang tak perasan sama matahari, nanti sudah rindu matahari kalau musim hujan. sama juga.. itu orang yang tak perasan sama hujan, nanti sudah rindu hujan kalau musim panas.. kita cuma tahu baguskah atau tak baguskah apa-apa itu, bila kita lihat mereka dari seberang yang bertentangan."
"oh, semacam itu ya.."
"come on my dear sky.. give us some more time.. could you?"
"wah, lumayan berat tu membawanya ke sana sini.."
"ah, buku itu!"
"kak, itu buku apa?"
"ini? isinya cuma puisi doang. tapi, sumpah keren lho."
"wah, judulnya dengan muka kavernya juga bagus. puteh.. minimalis banget. baru dibeli? belinya di mana kak? berapa harganya? pengen cari juga nih."
"nanti pinjam baca yang ini saja. susah dicari soalnya.. ini pun kebetulan baru tadi terbeli di tepi jalan. harganya? emm.. setin kopi.."
"dengan cuma setin kopi? yang benar lah kak.."
"ya, ini serius lah."
"hahaha. lucu.."
--kamu tidak sendirian menunggu hujan agar ia segera datang.
"kenapa siang takde bintang?""ha? sebab siang bukan malam. siang adalah siang dan malam adalah malam."
"tapi, bintang best."
"then, mau cari bintang di langit siang-siang? cari malam pada siang? come on laa.. setiap langit ada cahayanya masing-masing. malam cahayanya lain. siang cahayanya lain."
"hmm.."
"untuk move on, dalam hal apa pun, bukannya cuma berani melepaskan apa yang ada pada apa yang berlalu pergi. tapi, berani juga menerima apa yang ada pada apa yang datang tiba. biarkan waktu berjalan membawa pergi malam dan bintangnya. nanti kau akan belajar bahawa ada pelangi pada siang."
orang-orang yang sedang membancuh kopi, dia hati-hati dengan kopi bancuhannya. jangan sampai tertumpah air panas. terlebih gula, terlalu manis kelat. terkurang gula, pahit tidak tertelan. apa pun rasa yang terhasil daripada segala perihal yang di-adun-bancuh-nya masuk ke dalam cawan, yang pertama merasa kopi itu, pastilah dia sendiri. kalaupun kopi itu dibancuhnya untuk orang lain, tetap dia juga yang merasanya dahulu agar rasa kopi itu tidak mengecewakan.
pada kehidupan dunia yang kita jalani, kita akan berjumpa dengan tiga jenis orang.
orang-orang pertama;
--"kopimu sedap, aku suka rasanya begitu."
orang-orang kedua;
--"aku juga suka kopi. tapi, dengan rasa yang sedikit kurang manis berbanding kopimu."
orang-orang ketiga;
--"emm, aku lebih suka minum teh."
dan kita perlu ketiga-tiganya untuk hidup mendewasa. kita belajar untuk lebih menghargai diri sendiri bersama orang-orang pertama, kemudian kita belajar untuk sentiasa memperbaiki diri daripada orang-orang kedua dan kita akan menemukan perkara-perkara baru melalui orang-orang ketiga.
persamaan atau perbezaan, semuanya adalah hikmah dan nikmat.
kan?
:-]
"mahu ke mana mbak?"
"kampus gajah pak. berapa ya?"
"tiga ribu."
i promise that one day i'll be around
i'll keep you safe
i'll keep you sound
you'll never be alone
i maybe far but never gone
"lagi musim hujan ya sekarang, mbak?"
"ah, iya pak."
"kalo menurut saya, hujan itu kalo cuma sekali-sekali bagus mbak.. tapi kalau terus-terusan turunnya malah lebat lagi kayak gini ni, susah juga ya.. lagi-lagi untuk supir macam saya."
"eh, kenapa pak?"
"ya, pasal cermin kaca depan bas saya ni lho mbak. selalu kotor, debu kota dari sana-sini melekat. pandangan jadi nggak nyaman sebab cerminnya kotor berdebu. nah, kalo hujan, cerminnya dibersihin gratis, pandangan ke depan pun jadi jelas gitu kan? tapi, coba kalo hujannya lebattt sekali dan nggak pandai berhenti kayak pagi ini.. saya jadi susah kok mau nyetir. pandangan ke depan jadi kurang jelas, cerminnya ditutupin air hujan yang terus-terusan jatuh. akhirnya, perjalanan jadi kurang lancar.."
"oh, gitu ya..?"
mr r. : team, heavy rain at site this morning.
laki-laki : *emotikon payung*
mr r. : do pray team. structural work already delayed for few days at block 1... bla.. bla.. bla.. tower crane number 1 rosak... bla.. bla.. bla.. there should put drop by 25mm... bla.. bla.. bla.. ask them to hack that part asap... bla.. bla.. bla.. call for inspection after rain stop.
laki-laki : ok, noted.
"come on my dear sky.. just stop crying now.. could you?"
"wah, lumayan berat tu membawanya ke sana sini.."
"ah, calon dokter rupanya.. semoga sukses mbak! nanti bisa ngobatin umat manusia yang sedang sakit-sakitan."
"ada yang titip kopi ini untuk mbak."
"oh, siapa ya?"
"mas yang itu.. eh, masnya sudah pergi.. tadi ada duduk di meja di balik kaca ini.. katanya, suruh mbak pujuk langit dengan kopi ini supaya langit tidak terus-terusan bersedih. haha. lucu ya dia.."
"kenapa abang suka baca buku?"
"hmm, pernah tak ada benda yang bermain dalam fikiran kita, mahu kita keluarkan, mahu kita sampaikan, mungkin dalam tulisan atau mungkin dengan percakapan, tapi tak jumpa jalan macammana mahu terangkan, pernah?"
"emm, pernah. selalu."
"ha, itu sebab kita tak jumpa ayat yang sesuai untuk kita terangkan. kita tak jumpa perkataan yang tepat untuk menggambarkan apa yang kita fikirkan. sebab vocab kita masih kurang. kita kurang perkataan. kemudian, dalam buku kan ada banyak perkataan, ada banyak ayat. nah, sebab tu abang suka membaca, mahu menambah vocab sendiri. jadinya, bila ada hal yang berputar dalam fikiran, mudah untuk dikeluarkan dan disampaikan, sebab kita sudah ada perkataan-perkataannya, tinggal disusun menjadi ayat."
"ouh, ok. bila-bila nak pinjam buku boleh?"
"bolehh.."
"err, kenapa abang suka minum kopi?"
"tak semua perkara akan selesai diterangkan cuma dengan perkataan."
"emm, maksudnya?"
"ada benda yang kita hanya sampaikan atau terangkan cuma dengan kata-kata, baik dalam tulisan atau percakapan. dan kita fikir cukup dengan sekadar itu, orang yang membacanya atau mendengarnya akan faham. tapi sebenarnya ia masih belum selesai di situ. mereka cuma tahu apa yang kita katakan. untuk mereka faham, mereka perlu merasakannya sendiri, melaluinya sendiri, barulah mereka mengerti apa yang kita maksudkan. dalam hal-hal begini, ada beza antara tahu dan faham. macam kopi, kalau abang cuma cerita pasal bagaimana nikmatnya rasa kopi pahit-pahit manis berkrim, cukup tak untuk faham dengan sekadar di situ?"
"a'ah, tak cukup. kena rasa sendiri."
"jadi, cappucino dua cawan?"
"ha, boleh!"
"maap mas, ini bukan orderan saya."
"mas, itu punya saya mas. latte kan?"
"eh, kamu yang selalu duduk di ujung rak sambil membaca buku kan?"
"err, iya. mungkin itu saya. kamu juga membaca buku sama? itu, buku ditanganmu. buku itulah yang selalu saya baca juga."
"oh, iya. maap, saya terlanjur membelinya. mahu dibuat rujukan. saya selalu datang ke gramedia untuk membeli buku ini, tapi setiap kali itu juga buku ini ada ditanganmu, yang ya, duduk sendirian di ujung rak buku."
"iya, gapapa. buku itu bukan punya saya. terserah mereka mahu jual kepada siapapun."
"kamu sudah di bab sepuluh ya? masih ada lipatan tandanya di sini. masih ada tujuh bab ke depan. sayang sekali.."lelaki itu kembali meneruskan bacaannya. Mayra tersenyum tawar. pesanannya baru sampai. dia segera menikmati donut dan kopinya. setelah meminta password wifi daripada pelayan di situ, dia pun hanyut dalam dunia siber dalam ponselnya.
"semuanya dua belas ribu mbak. oh ya, ada yang titip buku ini buat mbak."juruwang itu menghulurkan sebuah buku tebal. buku yang dibaca lelaki tadi. buku yang setiap kali ke Gramedia, Mayra baca satu bab. bersebelahan cover depan buku itu, ada catatan yang ditulis lelaki bersweater cotton tadi.
--nah, buku ini kamu ambil ya. saya sudah habis. saya juga membacanya di toko buku itu, lama sebelum kamu. ternyata kamu datang mencarinya lagi hari ini. ternyata juga, bila hari hujan kamu suka singgah di kedai kopi. itu, naskhah terakhir di toko buku, kalau bukan saya, orang lain pasti akan membelinya sebelum sempat kamu menghabiskan. jadi, err, anggap saja ini hadiah daripada teman yang punya jiwa sama kayak kamu. sampai ketemu lagi..
seperti satu hari di kota yang dituruni hujan, kau duduk di tepi jendela kaca berbingkai besi yang sudah sedikit luntur hitam warna catnya menampakkan karat karat lusuh, kopi panas dibancuh dalam cawan porcelain dengan corak bunga ceri dan tanganmu menggenggam sebuah buku klasik yang kertasnya kekuningan berbau lapuk. lalu, kerana terlalu hanyut dalam bacaan, kau terlupa kopi panas di atas meja yang diperbuat daripada susunan papan kayu lama dalam tona warna coklat yang serupa.
setelah hampir habis di halaman halaman terakhir buku itu, kau baru teringat akan kopi panas. dan ketika itu, menghirupnya tidak lagi nikmat kerana kopi panas tidak lagi panas tapi sudah pun sejuk dingin, seperti dinginnya hari hujan. di luar jendela pula, aroma petrichor mula naik daripada jalanan jalanan yang basah, menandakan hujan yang sudah berhenti dan cahaya mentari mula memanaskan semula kota.
begitu maksud aku, tidak semua perkara kau nikmati dalam satu masa itu. kau tenggelam basah dalam salah satunya dan terapung kering pada yang lain. antara buku dan kopi, pikiranmu tenggelam dalam buku sedangkan tekakmu kering tanpa menghirup kopi panas ketika dingin hujan sudah mulai hilang.
kerana apa?
kerana kau tidak cukup membagi bagikan perhatianmu. ada banyak perkara disekelilingmu yang harus kau nikmati sebelum waktu mereka bersamamu habis. mereka cuma butuh sedikit daripada perhatianmu.
![]() |
| dua petak kecil daripada almari yang ada enam belas petak. |
adalah lelaki yang punya cita cita. ah, mungkin cuma angan angan. lelaki mahu membaca buku sebanyak banyaknya. tidak kira tentang apa saja genrenya; buku buku intelektual, buku buku puisi, buku buku cerita, buku buku apa saja. tidak kira siapa saja penulisnya. tidak kira berapa tebal halamannya. tidak kira bagaimana warna dan lukisan pada mukadepannya.
adalah lelaki yang punya cita cita. ah, mungkin cuma angan angan. lelaki mahu memiliki perpustakaannya sendiri. perpustakaan yang juga adalah rumahnya sendiri. perpustakaan yang menyimpan semua jenis buku buku miliknya. perpustakaan yang lelaki sendiri menjadi pustakawannya. biar rak rak buku itu tinggi mencapai bumbung, akan disediakan tangga untuk lelaki memanjatnya.
adalah lelaki yang punya cita cita. ah, mungkin cuma angan angan. lelaki mahu menjelajah ke serata dunia. menjelajah semua perpustakaan di dunia. menjelajah semua kedai buku di serata dunia. dengan itu dia akan bertemu dengan para ulat ulat buku daripada serata dunia. melihat dan belajar cara mereka bercerita dengan buku. mungkin buku yang dibaca mereka tidak difahami lelaki kerana terbatasnya bahasa yang diketahui lelaki, tapi melihat mereka tenggelam dalam bacaan sendiri sudah cukup membuat lelaki tersenyum sendiri.
adalah lelaki yang punya cita cita. ah, mungkin cuma angan angan. lelaki mahu membuka sebuah cafe yang menawarkan buku dan kopi. cafe yang letaknya di tepi jalan. cafe yang dindingnya cuma kaca lutsinar yang bahagian luarnya akan dibasahi titis titis air ketika hujan. cafe yang dindingnya adalah rak yang dipenuhi buku buku. cafe yang diwarnai dengan aroma kopi gaya cappucino, latte, espresso dan lain lainya. orang yang datang ke cafe itu pastinya adalah pencinta buku, kopi dan sekaligus hujan, sama seperti lelaki.
adalah lelaki yang punya cita cita. ah, mungkin cuma angan angan. lelaki mahu memiliki buku yang ditulisnya sendiri. tentang cerita cerita alam yang ditemukan dalam pengembaraannya. tentang cerita cerita manusia yang ditemukan dalam pengembaraannya. tentang cerita cerita perubahan jiwa sepanjang pengembaraannya. tentang khayalan khayalan yang pernah terlintas di pikiran lelaki pada setiap perjalanan panjang menaiki kenderaan dalam pengembaraannya.
terlalu tinggi cita cita. ah, silap lagi. terlalu tinggi angan angan lelaki. nah, begitulah dia..