Showing posts with label kopi. Show all posts
Showing posts with label kopi. Show all posts

Friday, August 13, 2021

ataraxia.

  
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 




 
 "i like to be alone but don't get me wrong,
you have always been a part of my solitude."
















 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
___
*ah, so many drafts. let them go one by one, shall we?

Wednesday, October 10, 2018

masih menunggu hujan datang.





tidak lama sebelum itu, apek berbasikal tua tiba dan memberhentikan kayuhannya tepat di hadapan pondok tunggu. di belakang basikalnya ada kotak polisterin puteh kedap udara yang diikat pada tempat duduk pembonceng. kelihataan berisi dan agak berat. apek turun dari basikal menyeka peluh dengan kain tuala merah jambu yang ada di lehernya.

apek menolak basikalnya ke tepi pondok tunggu dan menurunkan tongkat penahan di tayar belakang. basikal dicondongkan ke arah tiang pondok tunggu; kalaupun tongkat penahan tidak mampu menanggung beban basikal, ia tidak akan jatuh terus, ada tiang dan dinding pondok tunggu yang akan menahannya. apek duduk berehat di tengah kerusi tunggu, di antara gadis dan laki-laki. apek memerhatikan dua sosok asing di kiri dan kanannya, yang saling hanyut dalam dunia masing-masing.

"hei, leng zai.. leng lui.. mau beli air tin? saya ada jual."

laki-laki dan gadis saling berpaling ke arah apek. sambil menyambut perkataan apek, laki-laki menurunkan buku puisi puteh yang dihadapnya dan mengalihkan buku-buku tebal dari sebelah kirinya ke sebelah kanan. kini, lebih banyak ruang di antara dia dan apek. sedangkan gadis yang sedang menyelak simpanan gambar tadi, menutup skrin dan memasukkan taliponnya ke dalam beg kanvas biru.

"air apa ada uncle?" 
"kopi ada?"

laki-laki dan gadis meraikan dan menyambut pelawaaan air tin sejuk di pagi yang sedikit hangat. apek menjawab pertanya mereka dengan mengajak kedua-duanya berdiri dan berjalan menuju ke basikalnya.

"ada.. ada.. mari.. you orang sendiri tengok dalam kotak."

di dalam kotak polisterin penuh dengan ketul ais dan tin-tin air. di bahagian atas, hampir semuanya adalah air tin berkarbonat. apek menggali ke dalam timbunan tin-tin sejuk itu. mencari tin kopi. tapi cuma satu yang diperolehinya.

"kopi ada satu saja. siapa mau?"

hampir serentak gadis dan laki-laki menghulurkan tangan untuk mengambil tin kopi itu. tapi, laki-laki cepat-cepat menarik balik tangannya dan cuba menggali-gali sendiri ke dalam timbunan tin sejuk dalam kotak. tidak tertahan akan suhu di dalam kotak itu, laki-laki menarik tangannya yang hampir kebas kesejukan.

"aiya, kopi sudah habis. takpa la uncle."

lelaki melemparkan senyuman terima kasih kepada apek dan kembali ke tempat duduknya, mendapatkan semula buku puteh berisi puisi. laki-laki meneruskan bacaannya.

gadis terus berurusan dengan apek di tepi pondok tunggu. gadis menghulurkan sekeping not berwarna ungu puteh yang menggambarkan sekumpulan pelajar dan guru serta berlatarbelakangkan bangunan pendidikan mereka. dibalas dengan dua logam bulat berwana silver oleh apek. satu berukir gambar bangunan perumahan betingkat-tingkat dan satu lagi berukir bangunan lapangan terbang.

transaksi selesai. gadis dan apek juga masing-masing kembali ke tempat duduk mereka.

pondok tunggu kembali sunyi.





...





di seberang jalan, ada sekumpulan busker sedang menyiapkan pentas jalanan mereka. sekotak kecil pembesar suara diletakkan bersebelahan hamparan kain untuk menerima tip dari orang-orang yang mungkin terhibur dengan persembahan mereka. mereka bermula dengan lagu ringkas dan santai untuk menyambut hari yang akan panjang.

someone told me long ago
there's a calm before the storm
i know it's been comin' for some time
when it's over so they say
it'll rain a sunny day
i know shinin' down like water

suara dari kotak hitam pembesar suara tenggelam timbul dengan suara enjin kenderaan yang lalu lalang.

i want to know

have you ever seen the rain? 

i want to know
have you ever seen the rain
comin' down on a sunny day?

bunyi hon juga terkadang turut kedengaran meriah ketika trafik semakin padat.

yesterday and days before
sun is cold and rain is hard
i know been that way for all my time
'til forever, on it goes
through the circle, fast and slow,
i know it can't stop, i wonder

riuh rendah. 






...





sepertinya laki-laki makin tenggelam dalam perkataan-perkataan. sambil itu gadis mendapatkan tin kopi yang masih dingin. apek sekali lagi memecahkan kesunyian di pondok tunggu itu. memandang laki-laki yang jiwanya sedang tidak berada di situ, apek mengalih perhatiannya kepada gadis.

"manyak panas ya ini hari, amoi?"

sapaan uncle memberhentikan gadis dari menarik pin penutup tin.

"ah, iya uncle."

gadis menjawab ringkas pertanyaan. apek menarik tuala yang disangkut dari belakang leher ke bahunya. apek mengesat-ngesat muka dan lengannya.

"ini macam lah bagus. itu matahari sekali-sekali datang, baru lah seronok.. saya manyak suka cuaca ini macam." 
"eh, kenapa uncle?" 
"senang penat maa kalau cuaca panas. saya kayuh basikal sikit, sudah basah berkeringat. ini musim hujan mari, manyak syok la. nyaman.. sejuk.. tapi itu la, saya jual air tin sejuk takda laku sangat lah. orang suka minum yang panas-panas kalau musim hujan. tapi, takpa.. ini langit suruh kita belajar maa, hujan ka panas ka, semua ada bagusnya. itu orang yang tak perasan sama matahari, nanti sudah rindu matahari kalau musim hujan. sama juga.. itu orang yang tak perasan sama hujan, nanti sudah rindu hujan kalau musim panas.. kita cuma tahu baguskah atau tak baguskah apa-apa itu, bila kita lihat mereka dari seberang yang bertentangan." 
"oh, semacam itu ya.."

perbualan gadis dan apek selesai di situ. apek kembali mendapatkan basikalnya, mengemaskan kedudukan kotak polisterin yang diboncengnya. apek menolak basikal ke depan pondok tunggu. kaki kanan mendapatkan pedal, menariknya naik dan menekannya ke bawah berputar semula. roda basikal membawa apek meninggalkan pondok tunggu. kelibatnya perlahan-lahan hilang di kejauhan.





...





laki-laki menyelesaikan halaman terakhir buku puisi puteh, menutupnya dan meletaknya di sebelah kirinya yang kosong. cahaya matahari yang terbias di atap lutsinar pondok tunggu jatuh menyirami muka depan buku puteh berisi puisi.


laki-laki mendongak melihat langit daripada atap lutsinar pondok tunggu, mengharapkan akan ada ketukan-ketukan air hujan di atap lutsinar. laki-laki menarik nafas dalam dan melepaskannya perlahan-lahan. laki-laki berbisik sendiri di dalam hatinya.

"come on my dear sky.. give us some more time.. could you?"




hmm.

Monday, October 01, 2018

menunggu hujan datang.






pagi kota di awal oktober.


sinar matahari menyelimuti sosok-sosok pagi yang masih kedinginan, tapi gigih memulakan hari dengan penuh semangat. sedang musim hujan sekarang, mungkin akan berterusan sepanjang menuju penghujung tahun. orang-orang yang berpapasan di hadapan kaki lima barisan toko-toko, hampir semuanya membawa payung dan bedasi hujan masing-masing. tapi, hujan sepertinya masih belum mula beroperasi untuk hari ini. 



petrikor.


sampai di tepi jalan, talipon laki-laki berdering di dalam poket baju kemeja kotak-kotaknya. diangkat. angguk-angguk. dimasukkan kembali ke poket. berjalan menuju pondok menunggu bas di tepi jalan berdekatan. atap dan dindingnya diperbuat daripada bahan lutsinar, kecuali kerusi tunggu; tiga batang silinder keluli yang terkeluar daripada lantai konkrit melengkung dari hujung ke hujung. laki-laki duduk sendirian. tadinya dia hampir menyeberangi jalan, tapi membatalkan hasratnya setelah panggilan talipon itu dijawab.

lengan panjang kiri baju kemeja kotak-kotak ditarik naik sedikit, sehingga jam yang melilit di pergelangan kelihatan. usai melirik paparan waktu digital, laki-laki membuang pandangannya ke arah jalan berturap lurus yang agak jauh lokasi belokannya, sama ada di hujung kiri atau kanannya. aroma petrikor daripada hujan-hujan hari lepas, masih ada berlegar di ruang udara sekitar. jalanan masih ada yang basah. pada lopak air berdekatan pondok tunggu, terpantul cerminan imej laki-laki yang sedang mengeluarkan buku puisi berwarna puteh dari beg kanvas. selak halaman bertandabuku.

tidak lama, dari belakang, datang gadis dengan buru-buru, melabuhkan duduknya di kerusi keluli. sekilas, gadis terpandang di hujung bertentangan, ada susunan buku-buku tebal, milik laki-laki.

"wah, lumayan berat tu membawanya ke sana sini.."

spontan ayat itu berlalu pada fikirannya. tajuk pada buku-buku tebal itu tidak ada yang serupa, tapi penulisnya sama; russell c hibbeler. kemudian gadis terperasan ada buku lain, buku puisi berwarna puteh yang sedang ralit dibaca laki-laki.

"ah, buku itu!"

bisik, atau mungkin jeritan kecil gadis tenggelam dalam bunyi trafik sibuk yang meluncur di jalan raya dengan dua lorong pada kedua-dua arah itu.






hangat.


jalanan masih belum lengang. laki-laki terus menyelak halaman demi halaman buku puteh bertulis puisi di tangannya. sedikit pun tidak terganggu dengan roda-roda yang berputar laju di hadapan pondok tunggu.

sedangkan gadis sesekali berpaling ke belakang, ke kiri dan ke kanan, mencari kelibat-kelibat yang gadis tunggu. sesekali pandangannya terhenti pada buku puteh bertulis puisi yang sedang dibaca laki-laki. tadinya gadis mahu saja terus menyeberangi jalan. nama jalan di hadapan pondok tunggu ini sudah betul, tapi gadis tidak pasti di seberang mana, kelibat-kelibat yang gadis tunggu akan muncul. akhirnya gadis penasaran atas dua hal; tentang hadirnya kelibat-kelibat yang gadis tunggu dan tentang buku puteh bertulis puisi yang sudah lama gadis cari hampir di semua toko buku yang gadis tahu ada di kota ini, tapi tidak ada satu pun yang menjualnya. gadis memandang ke langit, sepertinya mengharapkan hujan datang segera pada ketika itu juga. gadis butuh sedikit lagi waktu dan alasan untuk terus berada di pondok tunggu itu.






...




"kak, itu buku apa?"
"ini? isinya cuma puisi doang. tapi, sumpah keren lho."
"wah, judulnya dengan muka kavernya juga bagus. puteh.. minimalis banget. baru dibeli? belinya di mana kak? berapa harganya? pengen cari juga nih."
"nanti pinjam baca yang ini saja. susah dicari soalnya.. ini pun kebetulan baru tadi terbeli di tepi jalan. harganya? emm.. setin kopi.."
"dengan cuma setin kopi? yang benar lah kak.."
"ya, ini serius lah."
"hahaha. lucu.." 




...






pada mukasurat terakhir salah satu buku tebal, dengan pena berdakwat hitam cair, laki-laki menulis sesuatu.

--kamu tidak sendirian menunggu hujan agar ia segera datang.








pena dilepaskan.

laki-laki capai tin kopi wonda extra presso.
ada tanda harga yang masih melekat,
$1.70




Tuesday, March 21, 2017

stands on its own.





rooftop.

dua cawan styrofoam berwarna puteh berisi air jernih berasap.
di tepinya ada bungkusan 3in1, oldtown hazelnut white coffee mocha. 

"kenapa siang takde bintang?" 
"ha? sebab siang bukan malam. siang adalah siang dan malam adalah malam."

hujung bungkusan 3in1 dikoyak.
isinya dituang masuk ke dalam cawan. ada butir-butir halus yang terbang ditiup angin, lari tidak mahu masuk ke dalam cawan.

"tapi, bintang best."
"then, mau cari bintang di langit siang-siang? cari malam pada siang? come on laa.. setiap langit ada cahayanya masing-masing. malam cahayanya lain. siang cahayanya lain."

bungkusan 3in1 yang sudah kosong ditekan-ratakan, keluarkan udara yang masih terperangkap di dalamnya. bahagian kiri kanan tepinya dilipat menegak masuk ke dalam. bungkusan plastik itu menjadi lebih padat. ia kemudian dicelup masuk ke dalam cawan, digerakkan dalam arah pusingan jam. buih-buih timbul di permukaan dan cuba bergerak ke tepi dinding cawan sebelum satu persatu pecah. perlahan-lahan serbuk kopi dan air panas menjadi sebati.

"hmm.."
"untuk move on, dalam hal apa pun, bukannya cuma berani melepaskan apa yang ada pada apa yang berlalu pergi. tapi, berani juga menerima apa yang ada pada apa yang datang tiba. biarkan waktu berjalan membawa pergi malam dan bintangnya. nanti kau akan belajar bahawa ada pelangi pada siang."

cawan diangkat, sampai ke aras dagu berhenti sebentar, menikmati aroma kopi yang naik meski tidak kelihatan zahirnya. kemudian cawan diangkat sedikit lebih tinggi lalu dihirup isinya. nikmat. cawan diletak semula ke bawah. hirupan pertama tadi meninggalkan lingkaran berwarna coklat terputus-putus, sedikit lebih tinggi daripada permukaan paling atas kopi yang masih berbaki.

sambung skygazing.



Monday, October 31, 2016

orang-orang kopi.







orang-orang yang sedang membancuh kopi, dia hati-hati dengan kopi bancuhannya. jangan sampai tertumpah air panas. terlebih gula, terlalu manis kelat. terkurang gula, pahit tidak tertelan. apa pun rasa yang terhasil daripada segala perihal yang di-adun-bancuh-nya masuk ke dalam cawan, yang pertama merasa kopi itu, pastilah dia sendiri. kalaupun kopi itu dibancuhnya untuk orang lain, tetap dia juga yang merasanya dahulu agar rasa kopi itu tidak mengecewakan.

pada kehidupan dunia yang kita jalani, kita akan berjumpa dengan tiga jenis orang.


orang-orang pertama;
--"kopimu sedap, aku suka rasanya begitu."

orang-orang kedua;
--"aku juga suka kopi. tapi, dengan rasa yang sedikit kurang manis berbanding kopimu."

 orang-orang ketiga;
--"emm, aku lebih suka minum teh."









dan kita perlu ketiga-tiganya untuk hidup mendewasa. kita belajar untuk lebih menghargai diri sendiri bersama orang-orang pertama, kemudian kita belajar untuk sentiasa memperbaiki diri daripada orang-orang kedua dan kita akan menemukan perkara-perkara baru melalui orang-orang ketiga.  

persamaan atau perbezaan, semuanya adalah hikmah dan nikmat. 

kan?







:-]







Tuesday, April 26, 2016

masih menunggu hujan pergi.






tidak lama, bas hijau kuning tiba dan berhenti tepat di hadapan pondok tunggu. gadis mengemaskan buku-buku tebal dalam dekapannya. kemudian mengangkat sekali cafe latte yang masih panas dalam cawan kertas coklat putih. pergerakan gadis semakin sukar, penuh berhati-hati membawa sejumlah buku-buku tebal dan secawan kopi panas.

rata-rata tempat duduk dalam bas masih kosong. hanya gadis, pak supir dan ibu muda yang mendodoi anak kecilnya yang sedang tidur nyenyak dalam dingin hujan. 

"mahu ke mana mbak?" 
"kampus gajah pak. berapa ya?" 
"tiga ribu."

gadis meletakkan buku-buku dan kopinya di tempat duduk penumpang paling hadapan, sebelah kiri bas. kemudian, gadis menyeluk poket beg sandang birunya, mengeluarkan not rupiah berwarna ungu dan menghulurkannya kepada pak supir. pak supir kemudian menghulurkan dua keping not rupiah kepada gadis, satunya berwarna perang hijau dan satunya lagi berwarna kelabu. 

lincah pak supir hidupkan signal ke kanan, kaki kiri tekan pedal clutch, masuk gear satu, lepaskan brek tangan, kaki kanan perlahan-lahan lepaskan pedal brek. bas pun mula bergerak meninggalkan pondok tunggu hadapan kedai kopi itu.



sunyi.

pak supir menekan punat on/off radio bersebelahan stereng bas. corong suara berwarna hitam yang terletak di setiap empat penjuru ruang bumbung bas mula bergetar mengeluarkan bunyi. lagu shawn mendes, 'never be alone' tenggelam timbul dalam bingit bunyi hujan dan sesekali hilang bersama signal radio yang kurang jelas.


i promise that one day i'll be around 
i'll keep you safe 
i'll keep you sound


zzsstt.. zzsstt..

zzsstt.. zzsstt..


you'll never be alone

zzsstt..


i maybe far but never gone

zzsstt.. zzsstt..



sambil itu, gadis mendapatkan kopi, yang entah siapa yang memberinya gadis masih tidak tahu, menghirupnya perlahan-lahan. panas kopi dan dingin hujan bersatu dalam rasa hangat yang menyegarkan. gadis melemparkan pandangannya ke luar tingkap bas yang basah dari luar. 

"lagi musim hujan ya sekarang, mbak?"

sapaan pak supir yang mengajaknya berbual membangunkan gadis dari lamunannya.

"ah, iya pak."



gadis menjawab ringkas dan perlahan. pak supir tetap fokus dengan pemanduannya, cuma sesekali memandang cermin pantul pandang belakang di atas kepalanya.

"kalo menurut saya, hujan itu kalo cuma sekali-sekali bagus mbak.. tapi kalau terus-terusan turunnya malah lebat lagi kayak gini ni, susah juga ya.. lagi-lagi untuk supir macam saya." 
"eh, kenapa pak?" 
"ya, pasal cermin kaca depan bas saya ni lho mbak. selalu kotor, debu kota dari sana-sini melekat. pandangan jadi nggak nyaman sebab cerminnya kotor berdebu. nah, kalo hujan, cerminnya dibersihin gratis, pandangan ke depan pun jadi jelas gitu kan? tapi, coba kalo hujannya lebattt sekali dan nggak pandai berhenti kayak pagi ini.. saya jadi susah kok mau nyetir. pandangan ke depan jadi kurang jelas, cerminnya ditutupin air hujan yang terus-terusan jatuh. akhirnya, perjalanan jadi kurang lancar.."
"oh, gitu ya..?"

perbualan itu terhenti dengan tangisan anak kecil yang terbangun dari lenanya dalam pangkuan ibu muda. pak supir menekan punat on/off radio bersebelahan stereng. suasana dalam bas kembali sunyi. hanya bunyi detak hujan yang kedengaran.




...




laki-laki meraba-raba poket baju, tiada. kemudian poket seluarnya pula, juga tiada. kemudian, paapp!, laki-laki menampar perlahan dahinya sendiri. ah, rupanya dia tertinggal pensel tekan-tekan di kedai kopi. dia melangkah berpatah balik ke kedai kopi yang sudah lebih kurang tujuh minit tadi ditinggalkannya.

sambil itu, dia mengeluarkan talipon dari poket belakang seluarnya. ibu jari kanannya lincah meluncur ke sana sini di atas skrin sentuh taliponnya. aplikasi whatsapp dibuka. satu-satu notifikasi dari group yang pelbagai diselesaikannya.

mr r. : team, heavy rain at site this morning.
laki-laki : *emotikon payung*
mr r. : do pray team. structural work already delayed for few days at block 1... bla.. bla.. bla.. tower crane number 1 rosak... bla.. bla.. bla.. there should put drop by 25mm... bla.. bla.. bla.. ask them to hack that part asap... bla.. bla.. bla.. call for inspection after rain stop.
laki-laki : ok, noted




tidak sedar, laki-laki sudah sampai di hadapan kedai kopi. memandang ke kiri, ke arah dinding kaca, lega, pensel tekan-tekannya masih ada di atas meja. tulisan pada dinding kaca sudah hilang, ditutup dengan kabut wap air. memandang ke kanan, ke arah kerusi tunggu yang sudah pun kosong kemudian mendongak ke arah langit, laki-laki menarik nafas dalam dan melepaskannya perlahan-lahan..

"come on my dear sky.. just stop crying now.. could you?"




hmm.

Thursday, April 21, 2016

menunggu hujan pergi.






pagi kota di pertengahan april.

matahari tidak kelihatan terbit sinarannya pagi itu. hujan mengambil tempatnya untuk menyambut manusia-manusia pagi. butir hujan jatuh menabrak setiap apa yang tidak berlindung daripada langit, membiaskan cahaya yang keluar daripada tiang lampu dan kenderaan yang bergerak perlahan dalam barisan yang panjang.





basah.

di balik kaca besar kedai kopi seberang jalan, laki-laki sedang menggubah rasa untuk secawan cappucino yang baru tiba di mejanya. laki-laki membuka beberapa bungkusan paket gula dan menggaulnya masuk ke dalam kopi. aromanya naik bersama kepulan asap, menusuk jauh ke dalam jiwanya yang butuh kesegaran. 

di hujung meja, ada beberapa gulungan kertas-kertas putih besar yang saiznya hampir sama dengan meja. laki-laki mencapai satu daripada kertas-kertas itu. membuka gulungannya dan mula membelek kandungannya yang penuh dengan lukisan garisan-garisan yang bervariasi panjang dan tebalnya, beberapa perkataan pendek dan selebihnya nombor-nombor. dengan pensel tekan-tekan, dia meneliti, menanda beberapa bulatan pada bahagian tertentu dan membuat kira-kira di ruangan kosong pada kertas itu. laki-laki sedang menunggu hujan pergi. dia ingin segera ke tapak bina yang tidak jauh dari situ, menyambung kerja-kerjanya memindahkan lukisan dari atas kertas ke atas tanah. dan itu sedikit sulit jika ada hujan.

tidak lama, di luar kedai, datang gadis dengan buru-buru, melabuhkan duduknya pada kerusi tunggu. gadis sedikit kebasahan ditimpa hujan. laki-laki mengalih perhatiannya keluar. gadis membawa beberapa buku tebal dalam dekapannya.

"wah, lumayan berat tu membawanya ke sana sini.." 


spontan laki-laki berkata pada kopinya. salah satu tajuk buku-buku itu, kapita selekta kedokteran essentials of medicine, laki-laki membaca tulisan pada muka depannya.

"ah, calon dokter rupanya.. semoga sukses mbak! nanti bisa ngobatin umat manusia yang sedang sakit-sakitan." 


bisik laki-laki tenggelam dalam bunyi hujan di luar. laki-laki meneruskan lagi meneliti lukisan pada gulungan kertas yang lainnya.





dingin.

hujan terus jatuh. jalanan kota terus basah. laki-laki sekali lagi memerhatikan gadis. sepertinya gadis tidak senang dengan suasana hujan pagi itu. kerap kali gadis melirik jam di tangannya, membetulkan buku-buku yang didekapnya sambil berdiri bangun memandang sesekali ke arah langit. mungkin berfikir untuk meredahnya saja, tapi tersedar bahwa dia tidak membawa payung, gadis kemudian duduk semula. lebih daripada itu, laki-laki perasan gadis sedang cuba menahan matanya untuk menjatuhkan butir-butir air jernih, cukup langit saja yang hujan, jangan dia. sepertinya gadis begitu berharap agar hujan segera pergi. dia ingin meneruskan perjalanannya. 

di antara laki-laki dan gadis, hanya kaca yang memisahkan mereka. kaca yang basah di luar dan sedikit berkabut di bahagian dalamnya. menerusi kaca itu, laki-laki memerhati diam-diam gadis yang sedang bergelut dengan perasaannya.





...




"ada yang titip kopi ini untuk mbak." 
"oh, siapa ya?" 
"mas yang itu.. eh, masnya sudah pergi.. tadi ada duduk di meja di balik kaca ini.. katanya, suruh mbak pujuk langit dengan kopi ini supaya langit tidak terus-terusan bersedih. haha. lucu ya dia.."
    




...






pada kaca yang sedikit berkabut dari dalam itu, laki-laki menulis sesuatu.

      --kamu tidak sendirian menunggu hujan agar ia segera pergi.









Monday, December 14, 2015

of books and cappucino.









kedai buku.


"kenapa abang suka baca buku?" 
"hmm, pernah tak ada benda yang bermain dalam fikiran kita, mahu kita keluarkan, mahu kita sampaikan, mungkin dalam tulisan atau mungkin dengan percakapan, tapi tak jumpa jalan macammana mahu terangkan, pernah?" 
"emm, pernah. selalu." 
"ha, itu sebab kita tak jumpa ayat yang sesuai untuk kita terangkan. kita tak jumpa perkataan yang tepat untuk menggambarkan apa yang kita fikirkan. sebab vocab kita masih kurang. kita kurang perkataan. kemudian, dalam buku kan ada banyak perkataan, ada banyak ayat. nah, sebab tu abang suka membaca,  mahu menambah vocab sendiri. jadinya, bila ada hal yang berputar dalam fikiran, mudah untuk dikeluarkan dan disampaikan, sebab kita sudah ada perkataan-perkataannya, tinggal disusun menjadi ayat."
"ouh, ok. bila-bila nak pinjam buku boleh?"
"bolehh.." 



kedai kopi.


"err, kenapa abang suka minum kopi?" 
"tak semua perkara akan selesai diterangkan cuma dengan perkataan." 
"emm, maksudnya?" 
"ada benda yang kita hanya sampaikan atau terangkan cuma dengan kata-kata, baik dalam tulisan atau percakapan. dan kita fikir cukup dengan sekadar itu, orang yang membacanya atau mendengarnya akan faham. tapi sebenarnya ia masih belum selesai di situ. mereka cuma tahu apa yang kita katakan. untuk mereka faham, mereka perlu merasakannya sendiri, melaluinya sendiri, barulah mereka mengerti apa yang kita maksudkan. dalam hal-hal begini, ada beza antara tahu dan faham. macam kopi, kalau abang cuma cerita pasal bagaimana nikmatnya rasa kopi pahit-pahit manis berkrim, cukup tak untuk faham dengan sekadar di situ?" 
"a'ah, tak cukup. kena rasa sendiri." 
"jadi, cappucino dua cawan?" 
"ha, boleh!"




dan hari pun hujan.
seperti semalam-semalamnya juga.








__________________________
*hari ni cuti. replacement untuk kerja semalam selesaikan inspection swimming pool, semoga hari ni dah boleh concrete. tubuh dan pikiran butuh rehat. mohon doa kalian. 


Friday, October 23, 2015

rainy days.




daerah istimewa, Jogjakarta.

jalan Jendral Sudirman. di sudut barisan panjang rumah kedai, berdekatan simpang empat berlampu trafik merah hijau kuning adalah toko buku Gramedia. aktiviti berkala bila ada masa senggang bagi Mayra, berkunjung ke toko buku tiga tingkat itu. 

kadang Mayra bukanlah datang untuk mencari buku untuk dibeli, tapi untuk menyambung bacaannya. iya, menyambung bacaannya. ada sebuah buku lama yang sedang dibacanya setiap kali dia bertandang ke toko buku itu. sebuah buku tebal tulisan penulis asia tengah yang diterjemah ke dalam bahasa inggeris, berkulit keras dengan tujuh belas bab kandungannya. setiap kali datang ke situ dia membaca satu bab. buku itu cuma ada satu naskah yang tinggal untuk dijual.

Mayra akan mencapai buku tebal itu dan duduk di sudut, penghujung rak tempat letaknya. sehingga habis membaca satu bab, dia akan bersila di situ tanpa menghiraukan sesiapa pun. jadi, kenapa dia tidak beli sahaja buku tebal itu dan bawa balik baca dalam bilik? entah, saya pun tak tahu. mungkin dia perlu alasan untuk sentiasa datang ke toko buku itu. mungkin ada yang menantinya atau mungkin ada yang dinantinya. entahlah. 

hari itu sepatutnya Mayra membaca bab ke-sepuluh buku itu. tapi, bila sampai ke rak buku tempat letaknya, buku tebal itu sudah tiada lagi. dia cuba bertanya kepada petugas toko. kata mereka, naskhah terakhir buku itu sudah habis. baru sebentar tadi ada orang yang membelinya. ah, sudahlah buku itu buku keluaran terhad, publishernya dari luar negara pulak. ada tujuh bab lagi berbaki untuk dibacanya. dia kecewa. 

turun dari tingkat atas toko buku itu, baru Mayra sedar kota Jogja sedang dituruni hujan. payung pula tak bawa. jadinya, dia memilih untuk menunggu sehingga hujan habis reda. mujur, bersebelahan tingkat bawah toko buku Gramedia ada premis Dunkin Donut. menikmati hujan dengan sebiji donut dan segelas kopi cappucino juga adalah idea yang baik kan.

selepas membuat pesanan di kaunter, Mayra menuju meja kecil di tepi dinding kaca. memerhatikan mobil-mobil yang mengambil giliran untuk melalui simpang empat yang dikawal oleh lampu trafik. sambil-sambil itu, dia ligat berfikir mana mahu cari buku tebal itu. dia mesti habiskan bacaannya. ah, kalaulah orang lain tahu apa rasa membaca buku rare yang best tapi tidak dapat menghabiskannya.. dia menyumpah-nyumpah dirinya sendiri yang degil enggan membelinya saja awal-awal dulu.

ketika itu, segelas kopi sampai di mejanya. tapi bukan cappucino seperti yang dipesannya. yang datang adalah latte. dengan perlahan, Mayra menolak kopi itu.
"maap mas, ini bukan orderan saya."
pelayan yang membawa kopi itu tepinga-pinga sambil melihat semula catatan pada bil. sehinggalah ada suara dari meja sebelah Mayra. 
"mas, itu punya saya mas. latte kan?"
ternyata kopi itu adalah milik seorang lelaki bersweater cotton yang duduk di meja bersebelahan meja Mayra. dari tadi dia situ cuma menunduk. pada kiraan Mayra, mungkin dia sedang tertidur kerana dia duduk membelakangi meja Mayra. tapi, rupanya dia sedang membaca buku. haha, mau hampir tergelak kuat Mayra.

dalam pada itu, Mayra hampir menjerit girang bila terlihat buku yang dipegang lelaki itu adalah buku yang dibacanya di toko buku. mahu ditegurnya lelaki itu, malu pula. dan tidak lama..
"eh, kamu yang selalu duduk di ujung rak sambil membaca buku kan?"
ah, ternyata lelaki itu memerhatikan Mayra.
"err, iya. mungkin itu saya. kamu juga membaca buku sama? itu, buku ditanganmu. buku itulah yang selalu saya baca juga." 
"oh, iya. maap, saya terlanjur membelinya. mahu dibuat rujukan. saya selalu datang ke gramedia untuk membeli buku ini, tapi setiap kali itu juga buku ini ada ditanganmu, yang  ya, duduk sendirian di ujung rak buku."
"iya, gapapa. buku itu bukan punya saya. terserah mereka mahu jual kepada siapapun."
"kamu sudah di bab sepuluh ya? masih ada lipatan tandanya di sini. masih ada tujuh bab ke depan. sayang sekali.."
lelaki itu kembali meneruskan bacaannya. Mayra tersenyum tawar. pesanannya baru sampai. dia segera menikmati donut dan kopinya. setelah meminta password wifi daripada pelayan di situ, dia pun hanyut dalam dunia siber dalam ponselnya.

setelah hujan reda, Mayra bersiap untuk pulang. lelaki meja sebelahnya sudah pun meninggalkan dunkin donut itu lebih awal. Mayra menuju ke kaunter untuk membayar donut dan cappucino yang dipesannya.
"semuanya dua belas ribu mbak. oh ya, ada yang titip buku ini buat mbak."
juruwang itu menghulurkan sebuah buku tebal. buku yang dibaca lelaki tadi. buku yang setiap kali ke Gramedia, Mayra baca satu bab. bersebelahan cover depan buku itu, ada catatan yang ditulis lelaki bersweater cotton tadi.
--nah, buku ini kamu ambil ya. saya sudah habis. saya juga membacanya di toko buku itu, lama sebelum kamu. ternyata kamu datang mencarinya lagi hari ini. ternyata juga, bila hari hujan kamu suka singgah di kedai kopi. itu, naskhah terakhir di toko buku, kalau bukan saya, orang lain pasti akan membelinya sebelum sempat kamu menghabiskan. jadi, err, anggap saja ini hadiah daripada teman yang punya jiwa sama kayak kamu.  sampai ketemu lagi..

.


Tuesday, September 29, 2015

kota kertas.




seperti satu hari di kota yang dituruni hujan, kau duduk di tepi jendela kaca berbingkai besi yang sudah sedikit luntur hitam warna catnya menampakkan karat karat lusuh, kopi panas dibancuh dalam cawan porcelain dengan corak bunga ceri dan tanganmu menggenggam sebuah buku klasik yang kertasnya kekuningan berbau lapuk. lalu, kerana terlalu hanyut dalam bacaan, kau terlupa kopi panas di atas meja yang diperbuat daripada susunan papan kayu lama dalam tona warna coklat yang serupa.
setelah hampir habis di halaman halaman terakhir buku itu, kau baru teringat akan kopi panas. dan ketika itu, menghirupnya tidak lagi nikmat kerana kopi panas tidak lagi panas tapi sudah pun sejuk dingin, seperti dinginnya hari hujan. di luar jendela pula, aroma petrichor mula naik daripada jalanan jalanan yang basah, menandakan hujan yang sudah berhenti dan cahaya mentari mula memanaskan semula kota. 

begitu maksud aku, tidak semua perkara kau nikmati dalam satu masa itu. kau tenggelam basah dalam salah satunya dan terapung kering pada yang lain. antara buku dan kopi, pikiranmu tenggelam dalam buku sedangkan tekakmu kering tanpa menghirup kopi panas ketika dingin hujan sudah mulai hilang.


kerana apa? 
kerana kau tidak cukup membagi bagikan perhatianmu. ada banyak perkara disekelilingmu yang harus kau nikmati sebelum waktu mereka bersamamu habis. mereka cuma butuh sedikit daripada perhatianmu.





Wednesday, July 29, 2015

sebelas hentian.






"hari ni dia baca buku apa?"

"langit vanilla."

"buku tu pun kau ada jugak?"

"ada. hampir khatam."



setiap pagi dari rumah ke tempat kerja, Ajam naik lrt pukul 7.30 pagi.  sampai ofis pukul 7.55 pagi. sebelum sampai ofis, ada sebelas hentian lrt. Ajam perasan, pada dua hentian pertama akan ada seorang gadis naik. Ajam bukanlah pengusha liar manusia lawan jantinanya. tapi sebab gadis tu sentiasa naik lrt dengan buku. sepanjang perjalanan gadis itu akan tekun membaca bukunya. dan hampir setiap buku yang dibaca gadis itu ada juga di rak buku Ajam. Ajam suka melihat buku apa yang akan dibawa gadis itu setiap pagi dan dia akan cuba recall balik isi kandungan buku tu, kalau-kalau dia pernah membacanya. setiap kali gadis itu larut dalam bacaannya, semacam dia ada di dunia lain. tidak peduli apa yang berlaku di sekelilingnya. sebab tu dia tidak pernah perasan ada orang(Ajam) yang mengamati buku yang dibacanya. 

di hentian ke-sebelas, Ajam akan turun dan gadis itu meneruskan perjalanan dengan bukunya.



....




"hari ni dia minum apa?"

"caramel latte."

"banyak tak orang pesan hari ni?"

"boleh la."



setiap petang dari tempat kerja pulang ke rumah, Lynn naik lrt pukul 5.10 petang. sampai rumah pukul 5.35 petang. sebelum sampai rumah, ada sebelas hentian lrt. Lynn perasan, pada dua hentian pertama akan ada seorang lelaki naik. Lynn bukanlah suka sangat tengok lelaki sembarangan dengan saja-saja. tapi sebab lelaki tu sentiasa naik lrt dengan setin air kopi. Lynn berkerja sambilan di sebuah kedai kopi, jadi dia sudah belajar hampir semua jenis bancuhan kopi yang popular. Lynn suka melihat kopi apa yang dibawa lelaki tersebut kemudian membayangkan bagaimana untuk membancuhnya dan berapa cawan bancuhan kopi itu dibuatnya untuk sepanjang hari itu. tetapi lelaki itu tidak segera minum tin kopi yang dibawanya. sebaik naik ke lrt, dia mesti akan terlelap. sama ada berdiri atau duduk. dia hanya akan tersedar bila tin kopi itu hampir terlepas dari tangannya setiap kali lrt berhenti.

di hentian ke-sebelas, Lynn akan turun dan lelaki itu akan tersedar lagi dari lenanya. kemudian dia akan membuka penutup tin kopi dan mula meneguknya. dan lrt pun meneruskan perjalanan.



_________________________________________
thanks for keep on reading my random stuff. i'll write more. :)

Wednesday, June 10, 2015

seventeen.




ada cerita tentang lima orang kawan kecil. di sebuah kampung jauh di tengah ladang kopi tepian bukit hijau, mereka selalu bersama berlari mengejar burung burung yang berterbangan mengigit gigit biji kopi yang ditanam penduduk kampung. nama mereka laut, awan, angin dan matahari. kalian jangan pelik ya, itu cuma nama panggilan antara mereka.

laut adalah laut kerana luasnya jiwa dan pikirannya. dia tahu macam-macam. mungkin kerana dia rajin membaca buku buku di pusat sumber sekolah. awan adalah awan kerana dia adalah anak kecil berkulit cerah seperti awan-awan puteh. dia mewarisi itu dari orang tuanya. angin adalah angin kerana dia suka berlari. lariannya laju. dia jaguh larian di sekolah. tapi bila berlari bersama kawan-kawannya ini, angin akan belari perlahan paling belakang, tidak mahu meninggalkan mereka. matahari adalah matahari kerana di rumahnya ada banyak pokok bunga matahari yang ditanam ibunya. laman rumah mereka penuh dengan kelopak jingga itu. jadi sekarang sudah jelas kan kenapa mereka menggunakan nama nama itu?

sebelum itu, kalian mesti ada yang bertanya, awal awal kata saya ini cerita tentang lima orang kawan kecil. tapi, ini cuma ada empat. yang kelima siapa? sebentar.. ini baru masuk cerita tentang dia. yang kelima justru adalah hujan. ya, hujan. empat orang anak kecil dan hujan. mereka berlima adalah kawan. eh, kenapa mesti hujan?


kerana hujan adalah gabungan daripada laut, awan, angin dan matahari. matahari dan angin mengangkat air laut naik ke langit yang kemudiannya ditampung oleh awan. setelah itu hujan akan turun dengan gembira di mana saja. menurut guru sains di sekolah, prosesnya lebih kurang begitu.

kerana hujan tidak pernah sendirian. meski di manapun ia jatuh, ia tidak akan jatuh sendirian. pernah dibasahi hujan yang cuma setitis?


menginjak usia tujuh belas, mereka berempat tidak lagi akan berlari bersama di ladang kopi tepian bukit hijau. justru, kini mereka harus berlarian sendiri di ladang ladang konkrit dan batu di tengah tengah kota bandar manusia demi mengejar cita masing masing. tapi itu tidak sedikitpun merisaukan mereka.


kerana mereka ada hujan. dan hujan akan ada di mana mana.
kerana mereka ada doa. dan doa akan ada di mana mana.



Thursday, March 26, 2015

bookshelf.


dua petak kecil daripada almari yang ada enam belas petak.

adalah lelaki yang punya cita cita. ah, mungkin cuma angan angan. lelaki mahu membaca buku sebanyak banyaknya. tidak kira tentang apa saja genrenya; buku buku intelektual, buku buku puisi, buku buku cerita, buku buku apa saja. tidak kira siapa saja penulisnya. tidak kira berapa tebal halamannya. tidak kira bagaimana warna dan lukisan pada mukadepannya. 
adalah lelaki yang punya cita cita. ah, mungkin cuma angan angan. lelaki mahu memiliki perpustakaannya sendiri. perpustakaan yang juga adalah rumahnya sendiri.  perpustakaan yang menyimpan semua jenis buku buku miliknya. perpustakaan yang lelaki sendiri menjadi pustakawannya. biar rak rak buku itu tinggi mencapai bumbung, akan disediakan tangga untuk lelaki memanjatnya. 
adalah lelaki yang punya cita cita. ah, mungkin cuma angan angan. lelaki mahu menjelajah ke serata dunia. menjelajah semua perpustakaan di dunia. menjelajah semua kedai buku di serata dunia. dengan itu dia akan bertemu dengan para ulat ulat buku daripada serata dunia. melihat dan belajar cara mereka bercerita dengan buku. mungkin buku yang dibaca mereka tidak difahami lelaki kerana terbatasnya bahasa yang diketahui lelaki, tapi melihat mereka tenggelam dalam bacaan sendiri sudah cukup membuat lelaki tersenyum sendiri.
adalah lelaki yang punya cita cita. ah, mungkin cuma angan angan. lelaki mahu membuka sebuah cafe yang menawarkan buku dan kopi. cafe yang letaknya di tepi jalan. cafe yang dindingnya cuma kaca lutsinar yang bahagian luarnya akan dibasahi titis titis air ketika hujan. cafe yang dindingnya adalah rak yang dipenuhi buku buku. cafe yang diwarnai dengan aroma kopi gaya cappucino, latte, espresso  dan lain lainya. orang yang datang ke cafe itu pastinya adalah pencinta buku, kopi dan sekaligus hujan, sama seperti lelaki.
adalah lelaki yang punya cita cita. ah, mungkin cuma angan angan. lelaki mahu memiliki buku yang ditulisnya sendiri. tentang cerita cerita alam yang ditemukan dalam pengembaraannya. tentang cerita cerita manusia yang ditemukan dalam pengembaraannya. tentang cerita cerita perubahan jiwa sepanjang pengembaraannya. tentang khayalan khayalan yang pernah terlintas di pikiran lelaki pada setiap perjalanan panjang menaiki kenderaan dalam pengembaraannya. 
terlalu tinggi cita cita. ah, silap lagi. terlalu tinggi angan angan lelaki. nah, begitulah dia..