Showing posts with label tadabbur alam. Show all posts
Showing posts with label tadabbur alam. Show all posts

Friday, January 31, 2020

reflections.







"and on the earth are signs
for those who have faith with certainty,
and also in you own selves.
will you not then see?"

51 : 20-21











"indeed, in the creation of
the heavens and the earth
and the alternation of
the night and the day
are signs for those
of understanding."

3 : 190










"do men think that they
will be left alone
on saying,
we believe
and not be tried?"

29 : 20





Wednesday, January 17, 2018

thalassophile.







bayu laut,

fiu~ 
fiuu~
fiuuu~


"kau suka laut?" 
"suka." 
"sebab?" 
"air laut seluas ini, sentiasa nampak tenang. dan ia menenangkan, kan?" 
"kau yakin air laut tenang?"


ombak menghempas,

dush!
dushh!
dushhh!


"kenapa dengan air laut?" 
"lihat, kalau air laut tenang dan senang dengan posisinya, kenapa sentiasa ada saja ombak-ombak yang belari ke pantai menghempas batuan? apa yang dikejarnya di darat? atau apa yang mengejarnya dari jauh-jauh seberang sana? kita yang cuma berdiri melihat dari pantai begini, tidak akan pernah tahu apa yang sedang berlaku jauh di tengah-tengah lautan sana. kita menipu diri sendiri kalau berkata laut ini sedang baik-baik saja. kita tahu laut tidak pernah diam tenang selagi ada gigi-gigi air yang memukul kaki-kaki kita di pantai." 
"jadi, kalau mahu tahu tentang laut, bertanyalah kepada dengan para nelayan yang baru pulang dari berlayar. mereka pasti tahu apa yang sedang berlaku jauh di sana. kan?" 
"ya." 
"hmm."


ah tak reti la buat bunyi-bunyi ni.


"tenang.." 
"calm." 
"kau rasa hidup kau tenang tak sekarang?" 
"dude.." 
"no, you dont have to answer that.. it just popped up in my mind." 
"okayy..."


buka youtube in new tab,
search: relaxing beach sounds.



"seperti kepercayaan kita bahawa laut ni tenang, padahal hakikatnya kita tahu ia tidak, rasanya kita selalu menipu diri tentang hidup kita sendiri. sok ngerasain hidup tenang, padahal nggak, malahan berantakan. kita tidak pernah merasa cukup, ada saja yang kita kejar. kita tidak pernah diam, ada saja yang mengejar kita. pathetic.. really.. sebab terlebih sering yang kita kejar dan mengejar kita itu adalah hal-hal duniawi. we're delusional, we lose the sense of reality and truth.." 
"dan kadang, ada ketikanya datang peringatan dari Tuhan. tapi tidak selalunya peringatan itu lembut. sebab jiwa kita yang sedang lena terhanyut tidak boleh dibangunkan dengan belaian, ia akan lebih lena. ia perlu dikejutkan dengan sesuatu yang lebih keras, supaya ia sedar." 
"loss. failure. heartbroken.." 
"..serve as a brutal reality check." 
"but, its worth it." 
"sebab itu jadi kepastian terbesar bahawa Tuhan masih sayang kepada kita."
"Tuhan mahu kita pulang kepadaNya.." 


ada jumpa?
ha, dengar sendiri.


"ar-rad. dua puluh lapan." 
"hanya dengan mengingati Allah, hati akan menjadi tenang."







sambung sea gazing.








___
*so, rasa hidup tenang tak sekarang?

Sunday, December 17, 2017

if letters disappeared from the world (1).
























kalau besok huruf-huruf hilang di dunia,
apa yang akan kau tulis hari ini?

tentang langit dan jalanan.







kalau besok huruf-huruf hilang di dunia,
apa yang akan kau baca hari ini?

tulisanmu tentang langit dan jalanan.




































45:3















Friday, June 30, 2017

雨 - ame.







rooftop.

masih tengahari, belum malam lagi.
tapi langit gelap.

maksudnya langit mendung la tu.

angin pun kuat.
lagi-lagi di atas atap.

"hujan."
"kembali."



tap..

tap tap..
tap tap tapp..
tap tap tap tap tap tapp tappp tapppp..

itu bunyi detak air hujan yang sedikit-sedikit turun kemudian terus lebat. sempat turun dari rooftop ke tingkat bawah, yang berbumbung, sebelum lencun. cuma sedikit basah.

"kembali?"
"hujan is kembali."
"from? in?"
"from quran. in at-thariq; eleven."
"wow, ingat." 
"acah-acah.. padahal buka tafsir in a new tab. haha."
"ceh.. so, the ayah please.."
"demi langit yang menurunkan hujan. dalam matan asalnya, in arabic, the word 'rain' referred to the kalimah al-raj'i, *which literally means return."

setiap butir hujan yang jatuh dan menabrak kaca jendela, seperti sedang berlumba sesama mereka untuk menjadi yang paling cepat meluncur jatuh ke bawah. butir yang lebih besar, luncurannya lebih laju berbanding butir-butir yang kecil. faktor graviti. ada juga butir kecil bergabung dengan butir kecil yang lainnya untuk menambah saiz sekaligus berat, menjadikan mereka lebih mudah dan lebih laju meluncur ke bawah.

"air hujan, datang dari bumi. diangkat naik ke langit. kemudian turun, kembali pulang semula ke bumi. tidak kiralah jauh mana daratan tanah mereka tinggalkan atau setinggi mana langit yang mereka duduki sebagai awan, akhirnya ke tanah juga mereka akan kembali apabila tiba masanya. itu fitrah atau sunnatullah hujan."
"so we are."
"but maybe from the opposite departure gate." 
"yup. we came from above, sent down to the earth. and soon will go back to our origin too. thats our fitrah, to return back to Him. langit tidak mahu menyimpan awan selamanya, dan bumi(dunia) tidak akan menyimpan kita selamanya."
"ok, guess what is the best type of rain(raj'i)?"
"type of rain? rain what? rainy days? train? trainee? terrain? brain? drain?"
"dude.. hahaha. rainbow la.. pelangi.. hujan yang pulangnya sempat meninggalkan kegembiraan kepada orang lain."
"ya, betul."

sambung rain gazing.



___
*tafsir al-azhar.

Wednesday, May 31, 2017

thousand towers.






rooftop.

"nah, sudah malam..."

pandang langit.
gelap gelita.
kosong.

"...pun masih belum nampak bintang. hahaha."
"light pollution."
"err, semacam river pollution? contaminated water? air pollution? jerebu?"
"ya. kind of. and what else? sound pollution pun ada.. emm, jap.."

keluarkan enset.
buka random mp3.
turn up volume to the loudest.
baca random message dalam whatsapp.

"hear me well?" 
"ah, not really.. and its annoying..  so, this is how it works. "

mp3 stopped.

"ha, sama macam pencemaran cahaya. ada masanya kita cari cahaya-cahaya tertentu, tapi pandangan kita terganggu atau mungkin tertutup dengan cahaya lain yang lebih terang, yang lebih dekat. macam cahaya bintang di langit, kita tak dapat cari sebab pandangan kita dipenuhi cahaya daripada bumi, semua yang ada di depan kita sekarang ni la.." 
"make sense." 
"itu cahaya fizikal, cahaya yang mata kita cari. by the way, hati kita pun cari cahaya kan? so, ada probabiliti berlaku pencemaran cahaya jugak kan dalam hati kita?" 
"ya, sure. maybe we haven't found the right light we seek because pollution was there, surrounding our heart."
"so, how to clean it up?"
"i dont know.. mungkin boleh try turn off unwanted light source. put some filter or something that can remove unwanted light from entering our heart. eh, kan we do light filtering in photography? like all those flawless picture.."
"ya.. or maybe we can move somewhere far from those contaminated light. there must be, at some distance, those polluted light atmosphere will no longer affecting our sight. on the other hand, the true light that we seek, shouldn't we get closer to it? to get a better view of it?" 
"yup."

pandang bumi.
warna warni.
benderang.

"surah al-buruj." 
"surah bintang?" 
"yup. buruj in this surah referred to the stars. and you know what, there is another meaning of the word buruj." 
"what?" 
"tower. or something that rise up high." 
"macam burj khalifa di dubai tu?" 
"you've got a point there. burj is the singular version and buruj is for the plural. so, that should brought us to another point of view in our tadabbur kan?" 
"towers in the sky?"
"sort of. but lets write about that on another day maybe.. dude, i'm tired.. hungry.. and ughh, sleepy too.."
"write? but.. i thought this is a real life conversation between two anonymous."
"ah, whatever.." 

sambung star gazing.



Sunday, April 30, 2017

je ne sais quoi.




rooftop.

beg galas di belakang, dilepaskan sebelah bahu.
dibawa ke hadapan.

keluarkan kamera.
keluakan lens.

"ini wide angle lens. focal length pendek atau kecil. kau tau guna untuk apa?" 
"untuk photo yang frame dia lebih wider kan?" 
"ha, betul.." 
"nama pun 'wide angle'.. obvious laa.."

cantumkan lens dan kamera.
buka lens cover.

set shutter speed.
set iso.
set aperture.

"do you realize this.. bila kita pandang dunia atau kehidupan dari frame yang lebih luas, wider and farther, lebih jauh, barulah kita faham kenapa setiap sesuatu ada di tempatnya masing-masing. pokok, sungai, laut dan bukit. macammana setiap mereka saling berhubungan, menjalankan peranannya masing-masing untuk melengkapkan sebuah sebuah pemandangan bernuansa damai dan indah. ini tidak kelihatan jika kita cuma berdiri melihat dunia di hadapan sebatang pohon." 
"nah, begitu dalam kehidupan, kita perlu melihat setiap apa yang datang ke dalam hidup kita sebagai satu identiti khusus yang memiliki peranannya yang tersendiri. mungkin itu ujian tertentu, atau manusia-manusia yang kita temui, juga kejayaan atau kegagalan dan sebagainya. semua sebenarnya saling berhubung untuk membentuk sebuah lukisan atau perjalanan takdir yang tersusun cantik setiap letaknya perkara-perkara tersebut."


angkat kamera paras muka.
dua tiga kali bunyi snap.

turunkan kamera.
buka lens.

ambil beg galas.
masukkan lens.

keluarkan lens lain.


"ok. yang ini apa?" 
"just another lens?" 
"haha. begini.. setiap sesuatu memiliki keindahan dan keunikan dengan caranya sendiri. indah dengan keindahannya yang sendiri. hal-hal biasa, kecil dan sepele akan kita lebih hargai jika kita tahu nilainya, keindahannya. cuma, tidak semua kelihatan dengan magnifikasi pandangan atau penglihatan berskala sifar. ia perlu kepada perkalian magnifikasi. perlu kepada perhatian dan penelitian. semacam uniknya struktur pola corak bunga atau rekahan pada sayap pepatung yang kita tangkap dalam mode close-up guna lens ni, macro lens." 
"ouh.." 
"your turn." 
"manusia memiliki fitrah, bila  terpandang atau merasakan sesuatu itu indah, mereka ingin menyampaikan pujian. dan mahu berterima kasih. kan? tapi, kepada siapa? seperti kita berterima kasih bila diberikan hadiah daripada orang lain. terima kasih kita adalah atas hadiah itu. nah, kepada siapa pula kita mahu berterima kasih atas orang yang memberikan hadiah itu? so, fitrah dibekalkan kepada manusia sebagai jalan untuk manusia sentiasa pulang kepada Tuhan."


angkat kamera paras muka.
dua tiga kali bunyi snap.

turunkan kamera.
buka lens.

ambil beg galas.
masukkan lens.

tangan masuk ke kocek seluar.
keluarkan phone.

turn on skrin.
buka lock pattern.

sebelah app camera ada app quran.

"you know what, dua konsep tadi tu asalnya aku dapat daripada quran study." 
"quran?" 
"yup. i mean, from literary point of view, ada dua cara we can look into the quran. first, macam guna wide angle lens. looking from afar, in a bigger picture, look how every ayah within a surah interconnected with each other. secondly, by the 'close up' or 'zoom in' concept, to look deeper into a single kalimah or word, dig into its root meaning, and how precise it was chosen for that particular place in an ayah. and thats how you will be awed in silence by the divine speech." 
"that's cool."
"ya, sejuk jugak atas ni."


sambung tengok pemandangan.




Wednesday, March 30, 2016

komorebi.








"see that?"

"sunlight."

"no. there are special word for it; komorebi."

"meaning?"

"japanese word. literally means 'sunlight that filters through the trees'."








"komorebi."

"it is made up of three kanji particle. the first kanji, ko means 'tree', the second one more refers to 'escape' and the last one bi is 'light' or 'sun'."

"beautiful."

"ya. there are leftover words without translations, and concepts that cannot be properly explained across cultures."

"the language of different people can tell you what they find important in life."








"in german, there's a word for being alone in the woods and feeling connected to nature, wladeinsamkeit."

"nice. i like that."








"somehow, there are feelings and ideas that we can't even put a word to. kan?"

"ya, agree. a lot of them."








"komorebi. it says a lot, don't you think?" 

"what?" 

"word and world. what's important is how you see the world. not how the world see you."








______________
*keep fighting! :)

source: 'komorebi' by wong fu productions.

Tuesday, November 10, 2015

its raining again.





usai solat maghrib, aku duduk sebentar di kaki lima masjid kota iskandar. memandang ke atas, lautan langit yang kian gelap.


ini maghrib pertama aku di sini. mungkin yang pertama untuk kebanyakan hari-hari ke depan. structure inspection terakhir hari itu, staircase di level 2 bahagian podium habis pukul enam lima puluh petang. dua minit sebelum azan maghrib. turun dari level dua podium, aku terus ke site office. mengemas barang-barang untuk segera pulang. langit mendung lagi seperti hari-hari lepas. keluar dari site terus bergerak ke masjid yang tidak sampai satu kilometer. maghrib di sini jemaahnya tidak ramai. cuma suku saf pertama. mungkin ini sebab kawasan perumahan semua jauh-jauh. dan masjid ini khusus untuk staff kota iskandar nusajaya ini, pusat pentadbiran negeri johor.


hujan mulai jatuh. tapi cuma sedikit. aku mengambil keputusan untuk redah saja. semoga hujan tidak lebat sehingga aku sampai di rumah. tapi, ternyata bila aku sudah melepasi separuh perjalanan, hujan jatuh dengan lajunya. di kiri kanan ramai rider-rider berhenti, memakai baju kalis hujan masing-masing. aku memutuskan untuk berhenti juga. tapi, bila cari-cari baju hujan, baru aku teringat aku terlupa bawa! baju hujan itu aku sidai, hari cuti semalam. aduh..

ah, aku nekad untuk teruskan lagi perjalanan.


tapi, melepasi dua traffic light, ternyata hujan jatuh makin lebat. tiada pilihan lain. aku belok ke simpang deretan rumah kedai. di situ ada ramai juga rider-rider lain yang memberhentikan pejalanan mereka sebentar, sama seperti aku, kerana tidak ada baju hujan. dalam keadaan basah lencun begitu aku memandang sepi ke arah hujan. teringat peristiwa sama masa datang interview untuk kerja aku sekarang ini. 


...



ingat lagi, tarikh enam oktober, sehari sebelum tujuh oktober, tunggang motosikal sebab mahu elak jalan sesak. petang itu hujan jatuh lebat juga ketika aku dalam perjalanan ke site. habis lencun pakaian yang aku rapikan untuk interview itu. aku hampir berpatah balik di tengah perjalanan kerana hujan yang terlalu lebat. tapi takdir menyampaikan juga aku di sana. 


sebelum masuk, aku singgah untuk duduk termenung di pondok menunggu bas berdekatan. masih berfikir mahu teruskan atau tidak. dalam keadaan lencun begitu, apakah mereka akan benarkan aku masuk dalam ofis atau tidak? akhirnya, aku memutuskan untuk redah masuk saja. basah tak basah, lepas tak lepas belakang cerita. interview itu berjalan lancar. interviewer ketika itu, yang kini merupakan general manager aku sekarang, bos yang sangat sempoi, haha, bertanya beberapa soalan dan aku menjawab dalam keadaan menggigil, bukan kerana nervous, tapi sebab baru lepas basah kuyup mandi hujan, masuk pulak bilik beraircond! tapi akhirnya, beberapa hari kemudian dia menghubungi aku untuk bertanya bila aku boleh mula berkerja.. Allahurabbi.


sungguh, kita tidak akan pernah tahu bagaimana takdir Tuhan bergerak.


...



kembali kepada kisah awal tadi, sambil memandang hujan aku berfikir tentang satu hal. hujan ini sebetulnya rahmat untuk kita. tapi terkadang ia bahkan boleh bertukar menjadi bencana atau musibah. bila hal ini boleh berlaku? menurut aku, ia apabila hujan jatuh pada masa dan tempat yang salah. seperti hari ini, aku merasakan ia jatuh tidak pada masa dan tempat yang tepat untuk aku. mungkin untuk orang lain, hujan ini jatuh pada masa dan tempat yang tepat untuk mereka. aku melihat rider-rider yang ada bersamaku. masing-masing hanyut dalam pikiran mereka. mungkin ada yang risau memikirkan anak-anak yang sedang menunggu mereka pulang dari kerja, mungkin ada yang sedih memikirkan baju yang baru mereka basuh pagi tadi masih belum diangkat dari ampaian, atau mungkin ada yang gembira memikirkan tangki air mereka terisi lagi setelah beberapa hari bekalan paip air terputus. begitu, masing masing punya 'masa dan tempat' masing-masing.


termenung lebih lama, aku berfikir lagi tentang satu hal yang lebih dalam. seperti hujan yang jatuh, cinta juga jatuh. seperti hujan, cinta jatuh pada masa dan tempat(orang) yang berbeza-beza untuk setiap daripada kita. seperti hujan, cinta boleh jadi rahmat bila ia jatuh pada masa dan tempat(orang) yang tepat. seperti hujan, cinta bahkan boleh jadi musibah bila ia jatuh pada masa dan tempat(orang) yang silap. justru kita harus bijak berfikir tentang hal jatuh cinta ini, apakah cinta itu jatuh pada masa dan tempat(orang) yang benar-benar tepat. jika bila telah habis berfikir dan menemukan jawapan dari Tuhan bahawa ia adalah benar-benar tepat, mungkin ada baiknya, seperti hujan, redahlah cinta yang jatuh itu. tapi tetap dengan sikap berhati-hati dan waspada bahwa takdir Tuhan tidak mungkin mampu dijangka kecuali setelah ia benar-benar telah terjadi. 



dan kali ini, aku memutuskan untuk meredah hujan yang jatuh. kerana entah sampai bila aku akan harus menunggu di sini. mungkin hujan ini hanya akan berhenti esok pagi. siapa tahu kan..



...


“boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” [al-baqarah; 216]







Wednesday, December 31, 2014

langit dua-ribu-empat-belas.




langit dua-ribu-empat-belas telah banyak berbicara langsung dengan kita para warga malaysia. bicaranya tidak lembut. keras dan tegas pada nadanya.

sebermula burung besi pertama yang dilenyapkannya. kita hilang arah. kita tertanya kepada para ahli logika ke mana perginya mereka. tanpa kita sedar bahwa langit dua-ribu-empat-belas sedang menanti kita untuk bertanya langsung padanya. tapi, kita tidak endah.

kemudian, burung besi kedua yang sedang gembira berterbangan di ruangan langit dua-ribu-empat-belas itu pula meletup dan terkulai jatuh menyembah tanah . kita mula saling menyalah, ini kerja dia, ini kerja mereka, mereka harus bertanggungjawab segera. dan langit dua-ribu-empat-belas masih lagi menanti kita untuk meminta panduan daripadanya. tapi, kita tidak endah.

seterusnya, langit dua-ribu-empat-belas semakin menaikkan nada suaranya. kali ini langit menjatuhkan pula hujan hujan basah. di sini dan di sana mula melimpah. kita terpana. ini apa pula? dalam kekalutan itu kita masih saja bisa berbalah sesama soal nama dan kepentingan kroni semata mata. langit dua-ribu-empat-belas cuma tertawa. entah ketawa sinis atau ketawa gembira dengan kita yang masih tidak endah dengan saudara yang tersiksa dengan bala bencana.

sebelum pergi buat selamanya, langit dua-ribu-empat-belas sekali lagi memilih burung besi untuk menjadi penyampai teguran agar kita tidak lupa. burung besi pun akur dengan amanah yang diberi dan semuanya berlaku sekelip mata. dan kita tidak punya pilihan untuk tidak lagi endah dengan segala peristiwa.

dengan begitu, langit dua-ribu-empat-belas pun pergi meninggalkan kita dengan segala pesan yang harganya tidak murah untuk dibayar semula. tapi, adalah lebih malang jika kita tetap dengan jiwa alpa, menafikan langit di atas yang punya kuasa.

semoga langit dua-ribu-lima-belas hadir dengan cahaya yang lebih tenang dan lebih akrab kepada kita. ya, pastinya kita perlu datang kepadanya dengan bicara taubat nasuha..



Monday, November 17, 2014

tetap sama.





rooftop.

dua cawan espresso. 
masih berasap. lingkaran bulat di permukaannya penuh buih.
"langit adalah langit. tak kira masa bila engkau tatap ke atas, langit tetap langit yang sama. cuma, kadang yang sentiasa berubah pada langit adalah warna awan waktu siang dan susunan bintang pada malamnya. itu yang buat langit jadi lain." 
"dalam. maksud kau apa?"

angkat cawan untuk hirupan pertama. 
bukak bungkusan oreo. putar, jilat, celup dan makan.
"aku dan kau. kita manusia. sama-sama hamba Tuhan. dan manusia akan tetap sama. aku yang semalam, sebulan lepas atau lima tahun ke belakang adalah aku yang sama hari ini."
"langit jadi lain dengan awan dan bintang. so, manusia?" 
"kita dengan iman, dengan nafsu. itu yang buat kita sentiasa boleh berubah. mungkin kau lihat dia masih sama dengan diri dia dua tiga tahun yang lepas. ya, kalau dulu dia suka dengar lagu-lagu acoustic guna earphone. dan hari ini dia masih lagi dengan earphone di telinga. tapi, mungkin sekarang dia dengar sheikh mishary al-afasy baca ar-rahman. jiwa manusia akan tetap sama, tiada perubahan. tapi, iman dan nafsu boleh diatur semula."
"oh, oke. faham." 

sambung skygazing.


Sunday, October 19, 2014

jatuh; gugur dan turun.




dalam perjalanan pergi yang panjang, bas tidak penuh. si pemuda duduk di sudut hujung bersebelahan tingkap mempamer warna warni alam di bawah langit yang mendung. pandangannya kosong, jiwanya tidak lagi ada tarikan graviti, begitu ringan terbang melayang.

tepat di dalam kotak kuning hadapan pondok menunggu, supir memberhentikan bas. seorang pak cik dalam umur lima-puluhan naik dengan tongkatnya. dibawa bersama adalah beg pakaian sederhana besar. barangkali dia sedang menuju perjalanan sederhana jauh.

pak cik mencari tempat sesuai untuk melabuhkan duduknya. sememangnya kerusi banyak yang kosong, boleh saja duduk di mana mana pun. tapi, itulah kehidupan. semua tentang pilihan, tentang apa kata hati. lalu pak cik memilih untuk duduk bersebelahan si pemuda. begitu dalam banyak banyak kerusi dua yang kosong, pak cik memilih kerusi satu di sebelah si pemuda. lalu pemuda mengalihkan beg galasnya yang diletak pada kerusi itu.

   "minta maaf anak muda. bisa aku duduk sebelahmu?"

pemuda mengangguk saja. kemudian, jiwanya hilang lagi. seperti ada perkara besar yang bermain di pikirannya. senyap seketika. bunyi geser tayar pada jalan dan geser angin pada cermin tingkap bersatu. tidak lama, pak cik bersuara.

   "anak muda, jauh kau mengelamun. apa yang kau pikir? kau kelihatan murung sekali.."

   "aku baru saja terjatuh. sakit.."

pak cik senyum. senyap lagi.

   "anak muda, jatuh itu sama seperti gugur. itu kau pandang di luar. ada yang sedang gugur kan.."

   "daun?"

   "ya. kau benar. kau tahu anak muda? daun yang gugur tidak pernah membenci angin yang meniupnya jatuh, ranting yang tidak kemas memegangnya sehingga dia jatuh, bahkan tanah yang mengotorinya saat ia jatuh."

bas melalui terowong. gelap sebentar. hanya cahaya lampu kuning yang menyimbah. keluar dari terowong, hujan mulai turun sedikit sedikit. tepat pada masanya, pak cik meneruskan bicara.

   "anak muda, jatuh itu juga persis turun. ya, yang kau pandang di luar jendela, itulah yang sedang turun."

   "hujan turun."

   "sekali lagi, hujan yang turun tidak dendam pada awan yang enggan menampung, melepaskannya jatuh ke bawah. jauh sekali berkecil hati pada manusia bumi yang marah marah kerana mereka sakit ditimpa hujan yang jatuh."

   "jadi, kenapa daun dan hujan bisa begitu?"

suara pak cik timbul tenggelam dengan bunyi guruh dan hujan. tetapi, pak cik tetap meneruskan bicaranya menjawab tanya anak muda.

   "kerana mereka tahu dan yakin, jatuh itu adalah sebahagian daripada takdir Tuhan kepada mereka."

riak muka pemuda sedikit berubah, lebih bercahaya. lebih serius.

   "pak cik, bagaimana kalau aku katakan aku sebenarnya jatuh cinta pada gadis?"

   "haha. itukan perkara manis buat darah muda sepertimu?"

   "aku bingung pak cik. aku tidak pasti apa yang menolakku sampai jatuh, apakah pesona agama yang ada padanya atau pandangan nafsuku pada cantiknya dia. aku takut pak cik, kalau kalau aku terjatuh pada lubang yang salah. aku takut.."

   "Tuhan tidak pernah meninggalkanmu sendirian setelah diberiNya persoalan. Dia sedang menunggu engkau untuk bertanya padaNya. istikharahlah anak muda.."

usai curhat dengan pak cik, pemuda terlena untuk tempoh yang agak panjang. sehingga dia tersedar, pak cik tidak ada lagi di sebelahnya..

Sunday, April 20, 2014

manifestasi kembara.



selepas pulang dari bumi sonata, saya mendapat obsesi baru; kembara. meskipun ini bukanlah pertama kali saya keluar dari malaysia, kerana pada umur 14 tahun yakni penghujung 2005 saya sudah keluar ke sulawesi, indonesia bersama arwah ibu dalam rangka kerja lawatan silaturahim keluarga kami di sana selama 14 hari. ada gaya yb tak? haha. 

ofkos, kenangan musafir bersama arwah ibu itu adalah yang paling indah dalam sejarah hidup saya. menaiki kapal laut selama 3 hari 3 malam adalah pengalaman luar biasa dengan angin laju laju, aroma laut dan air kebiruan yang menjadi panorama sejauh mata memandang. sangatlah eksaited bila berjumpa kapal laut lain atau pulau kecil berdekatan sepanjang perjalanan. seperti eksaitednya bertemu orang yang bertutur bahasa melayu di tengah tengah kota Seoul yang dibanjiri manusia puteh bermata sepet. 

tapi, mungkin kerana ketika itu masih 'kecil' lagi, saya kurang mengoptimasikan apa yang saya bisa belajar dari sebuah kembara. tidak lebih sekadar berjalan jalan dan bertemu orang orang asing. dan sebenarnya, kenangan kembara itu lebih saya hargai dan merasakan indahannya setelah arwah ibu pergi 4 tahun lepas. barangkali memang begitu lumrahnya, kita lebih menghargai setelah kehilangan. sob sob sob. T_T


lalu, untuk kembara kali ini saya mencari beberapa target peribadi yang saya ingin capai atau bawa pulang dari sana, disamping target rasmi kumpulan kami untuk program ini. ada beberapa buku dan pelbagai perkongsian tulisan online yang saya temukan bercerita pelbagai perkara menarik perihal kembara. dari situlah saya dapatkan inspirasi inspirasi.

ok, aneka perkara yang saya ingin lalukan atau capai dalam kembara ini antaranya adalah mencari serpihan jiwa yang mungkin ada di merata tempat. whoa, ayat nak 'serpihan jiwa' je. haha. 
"Tidakkah mereka perhatikan, bagaimana Allah memulai ciptaan kemudian mengulanginya? Sesungguhnya yang demikian itu mudah saja bagi Allah. Katakanlah:'Berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah, bagaimana Allah memulai ciptaan, kemudian Ia mengulangi penciptaan itu sekali lagi. Sesungguhnya Tuhan berkuasa atas segala sesuatu." (29:19-20)
ya. berjalan mentadabbur alam itulah caranya mengenal diri. kerana tadabbur akan membawa kita mengenal cinta Sang Pencipta. yakinlah bahawa pada setiap penciptaan akan nampak keindahan dan kebesaran Allah swt. tapi dengan syarat, kita melihat dengan hati; yang magnifikasinya jauh lebih besar berbanding sekadar melihat dengan mata polos. kita akan bertemu pelbagai perkara penting yang sangat seni untuk dilihat mata kasar.

lanjutannya, kata para ulama; "barangsiapa yang mengenal Tuhannya, maka dia akan mengenal siapa dirinya". nah, itulah yang tersangat saya harapkan. dalam perjalanan ini saya akan lebih mendekatkan diri kepada Allah, pemilik segala kerinduan dalam hati ini. tidak banyak, sedikit pun sudah sangat baik. adakah yang lebih bahagia daripada berada dekat dengan cinta dan rahmat Allah?

kemudian antara lainnya, saya juga berharapan besar agar dapat menangkap ratusan momen momen indah dan menarik lewat lensa kamera. hehe. alhamdulillah, sepanjang kembara ada DSLR bergantungan di bahu di samping si kecil video cam. hasilnya, 20++ gigabait gambar juga video terkumpul. haha. banyak tak banyak. tujuannya apa? sebenarnya saya mahu menyampaikan pengalaman atau kisah kisah yang saya dapat sepanjang kembara melalui gambar gambar. sebab kata Federick R. Barnard, "a picture speaks a thousands words".

objektifnya adalah saya mahu apa yang sampai kepada audiens tidak terhad sekadar membaca tulisan, yang kisaran kisahnya hanya bergantung kepada apa yang difikirkan oleh si penulis. berbeza apabila 'membaca' gambar yang punya ribuan cerita, audiens bisa melahirkan tafsiran masing masing dan belajar pelbagai perkara mengikut cerita apa yang mereka 'baca' pada gambar gambar tersebut. mengerti kan kalian? namun sebenarnya, usaha itu saya belum selesaikan lagi. ia ada dalam blog saya yang kedua, yang nanti saya siarkan, kalau jadi-lah.. hehe.




dan akhir sekali untuk entri ini, saya nak kongsi prinsip bahawa "the world is a book, and those who not travel, read a page only". yup, dunia ini adalah buku. setiap halaman adalah pengembaraan. dan setiap kali kita selesai membaca satu halaman buku yang menarik susun atur plot ceritanya, akan lahir rasa teruja ingin tahu apakah lanjutan kepada kisah tersebut di halaman kemudiannnya. dan rasa itu sentiasa hadir dan menjadi gian yang mendalam setiap kali bacaan diteruskan. begitu kan? nah itulah yang terjadi kepada saya. so, turn to next page?

this coming oktober: jakarta - bandung - jogjakarta. insyaAllah. :)


**but, unfortunately our ticket to indonesia sudah dikenselkan oleh pihak AirAsia due to some changes in their system. sob sob sob.. T_T . rancangan ke indonesia tunda la terpaksa.. (updated on 22 may 2014).


Thursday, December 19, 2013

muhasabah tentang musi-bah.





   Bismillah. Kita teruskan rakaman bicara lewat pena ini dengan petikan indah dari kitab suci al-Quran. Dalam baris ke-11 at-Taghabun, ayatNya menyapa kita dengan begitu lembut dan manis sekali;
 “Tidak ada satu musibah yang menimpa, kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberikan petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
   Belakangan ini, ruangan angkasa di beberapa negeri  Malaysia begitu sesak.  Awan-awan gelap tidak berhenti menitiskan air mata. Siang ke tengahari. Petang ke malam. Entah apa peristiwa yang terlalu sedih di alami oleh langit. Atau, mungkin juga langit terlalu gembira terharu. Tiada kepastian, kita yang berada jauh di bawah bumi ini mustahil untuk menjelaskannya.
                
   Tapi, ini bukan novel bersiri tentang cerita langit, awan atau matahari. Kita cuba membaca apa mesej dibawa dalam musi-bah yang telah menghanyutkan pelbagai cerita duka bersamanya. Ya, tentang banjir. Dan bukan banjir itu secara khusus, tapi secara umumnya. Kita melihat ia sebagai musibah atau bencana supaya lebih menyeluruh pengertian kita.

   Kisah tentang bencana sudah tentu memiliki banyak sudut pandangnya. Di sini, kita cuba membacanya dalam konteks sebagai muslim. Bilamana sesuatu bencana berlaku, tiga pandangan utama akan wujud dalam kalangan muslim.
   
   Pertama sebagai siksa, jika itu menimpa orang-orang yang tidak beriman. Kedua sebagai peringatan, jika menimpa orang-orang yang beriman tapi melakukan banyak dosa. Dan ketiga, sebagai sarana mengangkat darjat, iaitu bagi orang yang beriman, hamba-hamba Allah swt.

   Ini adalah formula mudah untuk menilai posisi iman kita.Tapi, formula ini hanya lebih praktikal untuk mereka yang terlibat langsung atau menjadi mangsa dalam bencana tersebut. Seterusnya adalah kita sebagai entiti yang melihat peristiwa tersebut dari luar gelanggang. Bagaimana kita harus memandang dan membacanya agar kita juga boleh turut memuhasabah iman kita.

   Sabda Baginda SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari ini salah satu jawapannya,
“Seorang Muslim adalah saudara orang Muslim lainnya.”
    Disinilah ruang untuk kita bermuhasabah. Apakah kita sudah menjalankan peranan terbaik sebaik seorang muslim? Yang mana, hati setiap muslim itu adalah bercantum dengan hati saudara-saudara seakidahnya. Segala apa yang menimpa atau berlaku kepada saudaranya, pasti akan merangsang perasaan yang  sama antara keduanya.

   Maka, perhatikan. Bergetarkah hati kita saat menyaksikan saudara-saudara kita  menerima musibah di sana? Seterusnya, bagaimana tindakan anggota tubuh? Masihkah pegun bisu tanpa apa-apa usaha untuk menghulurkan bantuan, setidaknya doa? Kalau ternyata jawapan kita adalah tidak, yakinlah bahawa Allah sedang memberikan teguran bahawa iman kita masih terlau jauh untuk menghampiri kesempurnaan.

   Semoga  dengan peristiwa ini, iman kita tidak dihanyutkan oleh deras yang mengalir. Bahkan ia timbul meningkat naik setinggi paras air setelah hujan lebat berhari-hari. Wallahualam.

_____________

*agak skema di situ..


Thursday, December 12, 2013

cerita hujan.



   Tik.. 
   
   Tak.. Tak..Tak..

   Tik.. Tik..

   Berantakan bunyinya laskar-laskar tetes hujan yang turun dari langit mendarat di lapangan atap atas bumbung. Formasi dibentuk. Lalu mereka bergerak seiringan menuruni laluan lengkuk-lengkuk beralun zink separa berkarat. Ada yang berguling. Ada yang melompat. Ada juga yang merayap. Akhir sekali mereka semua bertemu di tanah.

  Dua sosok menyaksikan persembahan tentera-tentera langit itu. Dari balik jendela lutsinar, di dalam kotak bilik segiempat tanpa pusingan kipas. Mereka bertukar-tukar suara.
"Temanku, Puteri Farsyiha Ellyza. Kau lihat itu, hujan turun lagi. Lebat. Padahal baru saja reda ba'da subuh tadi."
"Aku kurang jelas dengan nadamu Qaseh Aishea Zein. Bunyi hujan terlalu bingit. Apa kau suka atau mengeluh dengannya?"
 "Hmm. Aku juga kurang pasti. Kalau aku memilih untuk suka, apa aku berkira-kira keadaan mereka yang di sana, yang bergelut tenggelam dengan air? Dan bila aku mendengus benci, apakah aku sudah kufur dengan nikmat."
"Barangkali jawapannya ada pada tanah-tanah di bawah itu. Cuba kau tanyakan padanya."
 "Ha, memangnya kenapa? Eh, kau mahu aku bertanya pada tanah, Puteri Farsyiha Ellyza? Apa kau masih waras atau tidak?"
  Berkerut dahinya, Qaseh Aishea Zein. Melopong juga mulutnya. Lucu sekali memek mukanya.
"Hei, Qaseh Aishea Zein. Aku bercanda saja lah. Tapi, kalau memang boleh, aku rasa tanah memang ada jawapannya. Kerna mereka yang akhir sekali ditemui oleh tetes-tetes hujan. Kan. Pasti hujan menceritakan perkhabaran apa yang dibawanya dari langit"
"Ha, sepertinya kau benar. Tapi, itu mustahil. Mereka itu makhluk tanpa roh."
"Ya. Imijinasiku terlalu tinggi."
  Begitu perbualan mereka berhenti, hawa sejuk hujan mendodoikan mereka berdua. Sehingga mereka terlena sepi.

  Maka hujan dan tanah pun memulakan perbualan mereka.
"Hahahaha. Ada yang membicarakan perihal kita tu."
  Berdekah ketawa-ketawa daripada Sang Tanah. Sang Hujan pula tampaknya kurang senang.
 "Tanah, aku justru kasihan pada mereka. Mereka selalu tersilap membaca surat kiriman Tuhan melalui aku. Barangkali aku yang silap dalam menyampaikan. Padahal, semua isinya sekadar tentang rahmat dan cinta Nya. Mengapa begitu sukar."
"Maafkan aku Hujan. Aku bahkan kasihan padamu. Kau sudah melakukan yang terbaik sebenarnya. Tapi, manusia lah yang tidak pandai membacanya. Jauh lebih dari itu, aku begitu kagum padamu. Saban waktu, kau lebih banyak menerima keji dan caci dari manusia. Tapi, kau terus saja dengan konsistensimu menyampaikan rahmat dan cinta Nya."
"Itulah sebenarnya yang aku takutkan Tanah. Aku seringkali malu untuk naik semula ke langit Nya di atas, padahal tugasku tidak sempurna di bumi."
"Jangan begitu kawan. Kau tahu? Ini, semua pohon-pohon indah yang aku tumbuhkan. Mereka menjadi kesukaan manusia dengan redup teduh dan manis buahnya."
"Kau beruntung Tanah. Mudah sekali manusia membaca mesej cinta Tuhan yang ada padamu."
"Aku belum selesai menerangkan, Hujan. Semua ini adalah budi darimu. Kau yang menyuburkan aku. Tanpa kau menyirami, aku hanya gurun gersang dan kontang. Padaku, kau sebenarnya wira. Wira yang tidak punya bayang-bayang. Tidak pernah ditahu akan kewujudanmu. Kau hebat Hujan!"
"Ah, pujianmu terlalu Tanah."
  Sang Tanah tersenyum. Indah sekali temannya itu, Sang Hujan. Rendah hati dan istiqamahnya, sungguh luar biasa.

  Paling Sang Tanah suka, Sang Hujan selalu saja melukis pelangi untuk teman-temannya di bumi. Katanya, itu hadiah dari Sang Matahari. Padahal, Sang Matahari cuma memberikan warna. Sang Hujan pula yang melukisnya.

  [Tamat]


  Hey, aku ingin menjadi seperti Sang Hujan!


Thursday, May 30, 2013

batu dan air.

   Petang yang damai. Villa sejuk di kaki gunung. Berkumpul para power rangers rijal-rijal dakwah. Masing-masing mengambil tempat bertenggek di atas batuan-batuan besar yang separuh tenggelam separuh timbul sepanjang lebaran air sungai yang mengalir rapi di celah-celah. Jernihnya, kelihatan anak-anak ikan bermain polis sentri sesama mereka. Riang dan gembira.

   Sang murabbi pun berdiri mengambil tempatnya. Membawa setiap jiwa-jiwa yang hadir mengamati dan menghayati nyanyian lagu dan irama yang dialunkan alam. Senyap sebentar. Menyusuri aliran tenang air sungai.

   Sebelum mereka hanyut lebih jauh..

   "Ya ayyuhal ikhwah! Para pejuang-pejuang dakwah yang dicintai oleh Allah swt. Allah berfirman dalam al-Quran (ali Imran; 190),
 إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ 
  Allah ciptakan apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi ini semuanya untuk kita berfikir. Kita menelaah apa yang bisa kita ambil dari semua. Kita duduk di sini apa yang bisa kita ambil pelajaran?



   Ya ayyuhal ikhwah. Antum sekarang perhatikan bagaimana Allah menciptakan batu yang luar biasa besarnya. Allah menciptakan begitu kerasnya batu. Bagaimana Allah menciptakan air yang mengalir dengan lembut ini?

   Tapi, antara batu dengan air mereka berkerjasama untuk menimbulkan satu harmoni yang Allah swt harapkan di semua aktivis dakwah.

   Bagaimana dengan antum ya akhi? Kita sama muslim. Kita sama sama aktivis dakwah. Kenapa banyak di antara kita tidak mengambil ibrah ini? Kenapa di antara banyak aktivis dakwah, selalu mengatakan, "Ini hak antum, ini hak ana", "Ini kewajipan antum, ini kewajipan ana"?Tidak ada!

    Malulah kita pada apa yang diciptakan oleh Allah. Batu dan air ini.

    Ya ayyuhal ikhwah.
    Tidak ada pertikaian di antara mereka!"

    Serentak antara mereka dan alam melaungkan takbir; "Allahu Akbar!"


Friday, April 12, 2013

dalam, dalam lagi.

  Tepi pantai. Suasana indah nian. Bayu laut mendayu-dayu mengalunkan irama petang yang nyaman dan segar. Sepasang laki-laki duduk berduaan menikmati lukisan panorama laut biru di bawah kawanan awan komulus dan stratus. Meredupkan petang mereka. Sudah hampir setengah jam mereka di situ. Berbual agak panjang. Soal masalah problem yang meruncing.
"Min, apa yang enta lihat kat depan ni?"
"Ha? Emm, laut?"
"Oke. Apa yang enta lihat pada laut tu?"
"Luas. Kosong. Airnya masin. Adala ombak kecil-kecil sikit. Kenapa bang?"
  Sekali sekala mereka mengutip batu-batu kecil. Melemparnya sejauh mungkin ke arah lautan. Mungkin dengan harapan, bersama batu-batu itu dibawa segala resah dan gelisah yang membungkam.
"Pandang dalam lagi Min."
"Maksud abang?"
"Dalam sikit daripada permukaan laut, apa yang enta boleh lihat?"
"Emm. Tamadun hidupan laut yang berenang bebas sini sana kot. Macam ikan pelbagai spesies, sotong kurita, obor-obor. Macam-macam ada. Rezeki nelayan la ni."
  Ouh ya. Abang dalam cerita ini namanya Abdul Sulaiman. Abang Man nama glamournya. Manakala Min adalah nama panggilan kepada empunya nama, Muhamad Mukmin. Masing-masing adalah murabbi dan mutarabbi dalam usrah mereka. Abang Man dan Min. Eh, seirama pulak bunyinya.
"Dalam lagi Min."
"Kat dasar laut?"
"Ya."
"Ada tamadun hidupan laut gak. Tapi, majoriti yang tak berenang. Mungkin jenis yang berjalan kaki. Atau yang berjogging. Contohnya, kerang, siput, batu karang."
"Mutiara berharga yang mahal-mahal tu orang dapat kat mana?"
"Dalam kerang la bang."
"Kerang tu kat dasar laut la kan. Macam enta cakap tu."
"Hmm. A'ah."
  Air laut surut sedikit demi sedikit. Parasnya turun perlahan-lahan. Pantai menjadi semakin luas ke arah laut. Semakin banyak cangkerang-cangkerang siput yang ditinggalkan perumahnya kelihatan pada hamparan pasir. Berkilauan sini sana.
"So, Min nampak tak apa yang abang nampak?"
"Nampak apa bang?"
"Semakin dalam kita pandang laut tu, semakin banyak perkara berharga kita jumpa kan."
"Ouh. Ya. A'ah la bang." 

  Sunyi sebentar antara mereka berdua. Shiuhh.. Shiuhh.. Angin sepoi-sepoi bahasa melayu nusantara terus membelai lembut. Seekor anak ketam keluar dari lubang persembunyiannya. Berlarian mereng beberapa meter daripada mereka berdua. Perbualan disambung semula selepas iklan setempat sebentar tadi.
"Kenapa abang tanya pasal tu?: 
 "Tadi masa Min cerita masalah-masalah enta, Min pandang kat mana? Kat permukaan ke dalam lagi?"
"Entah. Macam mana nak tahu bang?" 
"Kalau Min pandang masalah-masalah tu dengan keluhan dan rasa benci, maksudnya Min nampak pada permukaan je la. Dalam sikit, Min akan pandang ia sebagai peluang untuk diri Min belajar sesuatu. Menyelesaikan masalah baru dalam situasi berbeza mungkin. Lebih dalam lagi, nanti Min akan nampak ada perkara lain yang lebih bermakna akan berlaku selepas masalah tu selesai. Dan perkara ini tidak akan terjadi kalau masalah tadi tak hadir. Semua ada kaitannya dengan tarbiyah. Dan hasil daripada tarbiyah tidak semua datang sekelip mata. Faham tak?"
"Emm, betul jugak bang. Min rasa, ana pandang semua masalah-masalah ini sebagi beban untuk dikeluhkan je. Bukan peluang mentarbiyah diri. Sebab tu la kot tak selesai-selesai lagi."
  Abang Man keluarkan henset Eksperia S III dari koceknya. Lincah jemarinya menekan-nekan skrin sesentuh. Aplikasi Android, iQuran dibuka. Kemudian, dihulur kepada Min. Min baca sepotong ayat al-quran. Kemudian dia pandang Abang Man. Senyum dibalas senyum.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,padahal ia amat buruk bagimu.Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui."
[Al-Baqarah:216]

...

* Mentadabbur alam itu memang seronok. Seriously.


Wednesday, February 27, 2013

trust the elektrikal enjinair!


Di setiap kota pasti ada pusat janakuasa elektrik. Di setiap penjuru kota, para pegawai atau enjinair-enjinair memasang instalasinya. Pasang tiang pencawang, yang kelihatan macam menara Effeil Tower tu, dengan kabel-kabel yang berjuntaian, yang selalu jadi port burung-burung kawasan berusrah. Melalui kabel-kabel itu lah, aluran elektrik masuk ke rumah-rumah, kedai-kedai, masjid-masjid, laptop-laptop anda dan ke tandas-tandas awam. Eh, tak pulak burung-burung yang bertenggek atas kabel elektrik tu terkena renjatan elektrik kan.

Kalaulah. Aliran elektrik tu kita matikan di pusat janakuasanya lagi, tidak di alirkan, habislah seluruh penjuru kota hitam gelap gelita. Padahal, ada jak tenaga elektrik tu tersimpan di pusat janakuasa, hanya saja tenaga elektrik yang ada itu tidak dimanfaatkan. Membazir jak. Kesian orang yang dalam emergency nak guna tandas malam-malam di RnR kalau lampunya tak bercahaya.

Eh, anda fahamkah statement di atas? Kalau faham, teruskan scrolling. Kalau tak, bagitau saya cepat. Nanti saya sampaikan kepada member-member saya, mereka sedia membantu. Ramai member-member saya adalah enjinair-enjanair elektrik tau. Si Syamsul, Hasnim, Din dan ramai lagi la. Hebak-hebak diorang ni. Trust them, they are enjinair.


Jadi, apa yang kita belajar dari statement diatas kawan-kawan? Anyone, Aiman? Farhe? atau Asle?

Begini kawan-kawan. Kita selalu berbicara tentang masalah dalam kalangan umat zaman ini. Hati-hati yang gelap, kehidupan femili yang suram, masyarakat yang kelam, seterusnya umat yang tenggelam. Why? Mana hilangnya energi kita? Oh, sebelum tu. Mana sumber energi kita? Untuk itu, mari kita tadabbur ayat di bawah.
"Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gelita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (al-Maidah :15-16)
So, nampak tak? al-Quran adalah sumber penjana energi yang dikurniakan Allah kepada umat islam. Namun, malangnya.. Kaum muslimin dan muslimat hari ini ada yang menolak sumber janakuasa yang agung ini. Akhirnya mereka hidup tanpa kuasa tenaga iman. Lemah dan longlai aqidahnya. Mudah sekali terperosok ke lembah kehinaan di lorong-lorong gelap di balik tembok rapuh. Huh!

Jadi, tugas kita yang ada power ni adalah, ya seperti para pegawai dan enjinair Tenaga Nasional Berhad, TNB atau Sabah Electricity Sendirian Berhad, SESB tu. Apa tugasnya? Alirkan energi-energi yang tersimpan di pusat janakuasa ke serata kota. Jangan biarkan ia terbiar disia-siakan. Alirkan energi iman dari pusat janakuasanya, al-Quran kepada mereka yang terlupa dimana mahu cucuk soket hidup untuk cas keimanan mereka. Supaya, setiap individu muslim kembali cergas bertenaga dan umat islam kembali ada 'kuasa'nya.

"Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami
berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan keadaan orang yang berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?" (Al-An'am: 122) 

Ha, begitulah ceritanya. Pehe dok? (o_O )

* petik dan olah daripada cebisan isi kitab At Thariq Ilal Quluub (Bagaimana Menyentuh Hati) tulisan Abbas as-Siisi. Semoga bermanfaat.


Saturday, June 30, 2012

game dan kehidupan



siapa suka main game?saya suka..haha.skali sekala..

dalam bermain game,ada pelbagai halangan dan cabaran perlu di lalui sepanjang perjalanan.itu semua menjadikannya lebih menarik.bayangkan kalau bermain game  cuma perlu lawan 1 org  penjahat jak untuk menamatkan game.dan hanya dengan sekali jentik jak penjahat sudah KO.uh,boring..ndak da feeling lansung.main game layang-layang lagi best.



untuk naik ke level seterusnya,ada misi yang perlu di selesaikan.ada tentangan yang harus dijatuhkan.ada lawan yang mesti ditewaskan.dan di setiap level pula,tahap kesukarannya berbeza bergantung kepada reward yang akan diterima apabila selesai misi atau berjaya ke level seterusnya.power menjadi hebat.kemahiran akan meningkat.weapon semakin bervariasi.menjadikan watak hero @ staring lebih cool n awesome..



nah,kembali kepada kehidupan.dalam menempuh hidup ini,Allah telah memprogramkan(menetapkan) bagaimana perjalanan kita.sudah disediakan pelbagai halangan dan cabaran yang perlu kita lalui agar kita menikmati hidup yang lebih seronok.sangatlah boring kalau hidup sekadar dilahirkan,makan n minum,finally kematian..iya ka?
Nabi SAW bersabda yang bermaksud: "Sesungguhnya Allah telah menugaskan satu malaikat berhubung peringkat kejadian anak dalam kandungan rahim ibunya dan keadaan akan dilalui, apabila air benih itu jatuh ke dalam rahim, malaikat bertanya: "Ya Tuhanku! Air benih ini akan disempurnakan kejadiannya atau tidak? Ya Tuhanku! Darah seketul ini akan disempurnakan kejadiannya atau tidak? Ya Tuhanku! Daging segumpal ini akan disempurnakan kejadiannya atau tidak? Maka apabila Allah hendak sempurnakan jadinya seseorang anak, malaikat bertanya lagi: Ya Tuhanku! Adakah ia seorang (yang bernasib) celaka atau (yang bernasib) bahagia? Lelakikah atau perempuan? Bagaimana pula keadaan rezekinya dan ajalnya? (Selepas malaikat mendapat jawabnya) maka ia menulis seperti diperintahkan sedang anak itu dalam perut ibunya." (Hadis Riwayat Anas r.a)

Allah juga menawarkan kenaikan level kepada setiap manusia.ia bergantung kepada hebat mana ujian yang diturunkan dan bagaimana kita menghadapinya.andai ita berjaya melaluinya,maka level kita akan meningkat disisiNya.bertambah power.reward yang superb menanti apabila kita berada di peringkat terakhir perjalanan(akhirat).itulah syurga indah abadi yang tak tercapai akalku akan bagaimana indahnya.
Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan saja mengatakan; “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.(Al-ankabut.ayat 2-3) 

namun,ingatlah..hanya dalam game sahaja kita boleh restart andai gagal.ia boleh dilakukan sesuka hati.andai kehidupan kita sudah game over,tidak ada lagi tawaran untuk restart.maka berhati-hatilah..



Thursday, April 26, 2012

di sebalik nasi lemak ayam RM 4.50

hari ini anda bangun pagi.bercadang utk makan nasi lemak ayam utk sarapan.maka anda pun menuju ke gerai mamak berdekatan..

"mamak,nasi lemak ayam 1..kurang manis ya."

"ok,siap!"

selepas 5 minit,
maka nasi lemak ayam anda pun siap dan dihidangkan kepada anda dengan hiasan sekuntum bunga raya bersama 3 keping timun..

cuci tangan.baca doa.anda makan..

"erkkk..alhamdulillah.."

minum air n then baca doa,cuci tangan,anda pun bayar dengan not rm 5 yang anda slotape tepinya kerana terkoyak sedikit.
abg cashier yang bertugas mengembalikan duit syiling 20 sen sebanyak dua keping dan 1 keping duit 10 sen kepada anda..

"RM 4.50 ? mahalnya!! kalau aku buat sendiri pun boleh..hish,jelek (baca = x best) kedai ni.apamaccam ooo.."

...

so,apa yang maw di bincangkan? ok,nasi lemak ayam memang sedap..

tapi,kenyataan "aku buat sendiri pun boleh.." macam silap bah..

baiklah,pernah x anda terfikir berapa ramai orang yang terlibat utk menyiapkan makanan yang anda makan ketika itu?

 1 org? tukang masak..
 2 org? tukang masak+pemotong bawang..
 3 org? tukang masak+pemotong bawang+pembancuh

teruskan mengira..tekanlah calculator anda.gunakan apa saja formula maths yang anda tahu.buat differentiation.integrate.
maw lukis graph pun cantek..itu lebih kelihatan genius..

di akhirnya,anda akan mendapati bahwa bukan 1,2,3 atau 10 org yang terlibat..bahkan mungkin beratus..fakta @ auta?

mari kita buktikan dengan menggunakan formula 
'sahlan 3rd degree of rangerisation'..muahahaha!

ok,sekarang lihat satu per 1 bahan2 utk memasak nasi lemak ayam.

1.nasi
org yang memasak nasi + org yang memcuci beras + org yang mengeluarkan beras daripada
karung beras + org yang menjual beras + org yang menjadi pemandu yang mengangkut beras2 tu
+ org yang menjadi petani utk menanam padi + org yang jadi pembekal baja utk menanam padi + org yang itu.. + org yang ini..

2.ayam
org yang menggoreng ayam + org yang menyiang ayam + org yang sembelih ayam + org yang jual ayam hidup
org yang jadi penternak ayam + org yang jual makanan utk ayam + org yang bina reban ayam + org yang itu.. + org yang ini..

3.kacang
org yang goreng kacang + org yang cuci kacang + org yang pegi beli kacang + org yang jual kacang + org yang tanam kacang
org yang jual benih kacang + org yang jual baja + org yang itu.. + org yang ini..

4.timun
use the equation above(kacang) but change the kacang to timun..explain your answer..

5.bawang + halia + etc..

itu hanya utk bahan2..lain pula ceritanya utk apparatus yang digunakan utk memasak nasi lemak ayam RM 4.50 anda.
pisau yang digunakan.tong gas.kuali.pinggan.dll...

in the end of the day,anda akan menuju kepada jawapan yang mungkin unsuspectible..jumlah org yang terlibat,probably mencapai
ratusan org.dan kalau dikira jumlah guna tenaga dan kos yang digunakan utk menyiapkan nasi lemak ayam anda,maka
sangatlah x relevan dengan nilai RM 4.50 yang anda bayar.fakta @ auta?

done.apalah signifikannya kita membincangkan ini ya?

sekarang.tutup mata anda (boleh membaca ka?).bayangkan kalau anda seorang yang menyediakan nasi lemak ayam tersebut utk anda makan.

anda yang menanam kacang.menyediakan baja.menternak ayam.menghasilkan makanan ayam.membina reban ayam.
sembelih ayam.siang ayam.memanam padi.memproses padi menjadi beras.buat batas,tanam timun.tabur baja.
buat kuali.buat pisau.carigali gas utk memasak dan semualah perkara yang diperlukan untuk menyiapkan nasi lemak ayam tu,
anda lakukan sendiri..
amacam,bole??


kemudian,kos beli beras.kos menanam padi.kos beli benih padi.kos beli baja.kos ternak ayam.kos bina reban ayam.
kos tanam timun.kos carigali minyak.kos hasilkan pinggan dan kos2 berkaitanla..
RM 4.50.cukup??

masa utk tanam padi.masa utk bela ayam daripada kecil sampai ayam matang.masa utk tanam timun dan kacang.masa utk sediakan
baja. masa utk proses padi kepada beras.masa utk proses ayam.dan masa2 utk perkara lain yang termasuk dalam proses..
5 minit.sempat??

jadi,mari membumi.sesungguhnya tiadalah mampu kita seorang utk menyiapkan sepinggan nasi lemak ayam dengan kos RM 4.50
dalam masa 5 minit.

ini buktinya manusia sentiasa bersinergi dalam melengkapkan keperluan masing2.sentiasalah memberi pertolongan kerana kita adalah salah satu pelengkap kepada sistem sinergi ini.

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (Al-Maidah:  2)

di sudut lain,
amatlah menipu andai ada org yang mengaku bahawa dia adalah superhuman.mampu melakukan semua perkara berseorangan.
inilah sifat makhluk.memiliki sifat kebergantungan kepada yang lain.hanyalah Allah s.w.t yang bersifat maha Esa.
jangan pernah takbur ya kawan2.

di sudut seterusnya pula,
seperti slogan Wonder Pet "apa yang penting?,kerjasama!!".
ya,kerjasama itu sangat2 penting dalam gerakkerja berpasukan utk menghasilkan produk yang berkualiti.
implementasikanlah ia dalam setiap pekerjaan kita.tidak lupa kepada para power rangers dakwah.
peganglah kata2 saidina ali k.w. ,
"kebenaran yang x tersusun pergerakannya akan dipatah-patahkan oleh kebatilan yang pengurusannya rapi."

sekian.semoga bermanfaat.
tiada berkaitan dengan yang hidup atau mati.ha ha ha ha ...