Tuesday, December 24, 2019

bukan tulisan renja hijo :)


Bismillah.

I'm writing this open letter to you, dear renja hijo. :)

Benar kata kamu, ada hal yang tak terungkap dengan kata-kata.
Seperti Zulaikha menjustifikasi keindahan Yusuf.
Seperti bagaimana Allah, menumpulkan perasaan ini sebelum mengenali benar jiwa tulusmu.
Dan bagaimana Dia juga, yang telah menyemai bibit cinta kita.

Kata Akh Salim A. Fillah di Jalan Cinta Para Pejuang;

Satu kata cinta Bilal,
"Ahad!"

Dua kata cinta Sang Nabi,
"Selimuti aku..!"

Tiga kata cinta Ummu Sulaim,
"Islammu, itulah maharku!"

Empat kata cinta Abu Bakar,
"Ya Rasulullah, saya percaya..!"

Lima kata cinta Umar,
"Ya Rasulullah, izinkan kupenggal lehernya!"

Terus.. berapa banyakkah kata cinta yang bisa diungkapkan? Bagaimana pula dengan kata cinta dari Tuhan? Sekian banyaknya takkan cukup dengan tinta seluas lautan.

Jadi buat aku, kamu tidak perlu mengungkapkan.
Cukup dengan membimbing aku ke jalan yang hanif.
Cukup bersama membina baitul muslim yang salim.
Cukup kita memaknai tujuan hidup.

Maka,
Genggam erat tanganku zauji,
Mari mengejar redha Ilahi.


Salam sayang,

Renja pink. ;)

Saturday, December 14, 2019

tsumma Alhamdulillah.


















mak, 
today i got married to a super lovely girl (she wrote me these secret daily letters since day 1 of our journey to this marriage; oh my Allah).  i'll introduce her to you when we all get reunited in jannah, insyaAllah. :)























Saturday, November 23, 2019

another stage.






setiap minggu saya suka solat jumaat di masjid-masjid berlainan. bagi saya, setiap masjid ada vibes-nya sendiri. dan saya juga ada spot-spot tertentu yang saya suka duduk untuk mendengar khutbah pada masjid-masjid yang biasa saya singgahi. seperti semalam di masjid pulai indah, saya suka duduk di bahagian luar masjid. bersebelahan tempat mengambil wuduk.

sebab saya suka tengok budak-budak ambil wuduk. haha.

saya suka saksikan momen mereka berhadapan bersendirian dengan pili air sambil diperhatikan diam-diam oleh ayah mereka dari belakang berada dalam posisi rukuk di hadapan pili air, mereka termenung sebentar, menarik nafas dalam kemudian mula membuka pili air. setiap kali beralih di antara satu anggota wuduk ke satu anggota wuduk yang lain, mereka akan berhenti sebentar, termenung melihat air yang mengalir di bawah sambil berfikir, mengingat-ngingat kembali rukun wuduk "lepas ni apa? lepas ni apa?" tapi sepanjang itu sedikit pun mereka tidak terganggu oleh  pili-pili air di sebelah, orang-orang dewasa di kiri dan kanan yang lancar menyelesaikan wuduk mereka. fokus mereka hanyalah pada air yang terus mengalir dari pili di hadapan mereka, mencuba sehabis baik untuk menyempurnakan wuduk. akhirnya, setelah menyelesaikan semua anggota wuduk, mereka menutup pili air dengan penuh gembira dan berpaling pergi menuju ke arah ayah mereka dengan senyuman paling ceria.

inilah momen sederhana yang selalu saya jadikan tempat untuk bermuhasabah sendiri. muhasabah tentang proses dan perjalanan-perjalanan hidup. menjadi semakin dewasa hari ke hari, kita selalu beranggapan bahawa kita harus pantas dalam semua hal. sampai-sampai meletakkan tekanan tidak perlu kepada diri sendiri. merasa diri terlalu perlahan ketika orang lain sudah pun jauh bergerak. padahal hidup bukan perlumbaan. setiap manusia melalui jalanan yang masing-masing seperti yang ditetapkan Tuhan; jadinya untuk apa membanding-banding kelajuan? sampai atau tidak kita pada destinasi di hadapan tidak pernah ditentukan oleh halaju.

tidak perlu menoleh ke kiri dan kanan, teruskanlah melangkah ke hadapan, berehat jika perlu, selebihnya nikmati dan belajarlah dari apa saja yang ada pada jalanan yang sedang kita lalui. dan ya, kita tidak pernah terlalu dewasa untuk menjalani hidup seperti kanak-kanak atau memandang kehidupan dari kacamata seorang kanak-kanak.





___
*may Allah ease our journey ahead. :)