Sunday, April 20, 2014

manifestasi kembara.



selepas pulang dari bumi sonata, saya mendapat obsesi baru; kembara. meskipun ini bukanlah pertama kali saya keluar dari malaysia, kerana pada umur 14 tahun yakni penghujung 2005 saya sudah keluar ke sulawesi, indonesia bersama arwah ibu dalam rangka kerja lawatan silaturahim keluarga kami di sana selama 14 hari. ada gaya yb tak? haha. 

ofkos, kenangan musafir bersama arwah ibu itu adalah yang paling indah dalam sejarah hidup saya. menaiki kapal laut selama 3 hari 3 malam adalah pengalaman luar biasa dengan angin laju laju, aroma laut dan air kebiruan yang menjadi panorama sejauh mata memandang. sangatlah eksaited bila berjumpa kapal laut lain atau pulau kecil berdekatan sepanjang perjalanan. seperti eksaitednya bertemu orang yang bertutur bahasa melayu di tengah tengah kota Seoul yang dibanjiri manusia puteh bermata sepet. 

tapi, mungkin kerana ketika itu masih 'kecil' lagi, saya kurang mengoptimasikan apa yang saya bisa belajar dari sebuah kembara. tidak lebih sekadar berjalan jalan dan bertemu orang orang asing. dan sebenarnya, kenangan kembara itu lebih saya hargai dan merasakan indahannya setelah arwah ibu pergi 4 tahun lepas. barangkali memang begitu lumrahnya, kita lebih menghargai setelah kehilangan. sob sob sob. T_T


lalu, untuk kembara kali ini saya mencari beberapa target peribadi yang saya ingin capai atau bawa pulang dari sana, disamping target rasmi kumpulan kami untuk program ini. ada beberapa buku dan pelbagai perkongsian tulisan online yang saya temukan bercerita pelbagai perkara menarik perihal kembara. dari situlah saya dapatkan inspirasi inspirasi.

ok, aneka perkara yang saya ingin lalukan atau capai dalam kembara ini antaranya adalah mencari serpihan jiwa yang mungkin ada di merata tempat. whoa, ayat nak 'serpihan jiwa' je. haha. 
"Tidakkah mereka perhatikan, bagaimana Allah memulai ciptaan kemudian mengulanginya? Sesungguhnya yang demikian itu mudah saja bagi Allah. Katakanlah:'Berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah, bagaimana Allah memulai ciptaan, kemudian Ia mengulangi penciptaan itu sekali lagi. Sesungguhnya Tuhan berkuasa atas segala sesuatu." (29:19-20)
ya. berjalan mentadabbur alam itulah caranya mengenal diri. kerana tadabbur akan membawa kita mengenal cinta Sang Pencipta. yakinlah bahawa pada setiap penciptaan akan nampak keindahan dan kebesaran Allah swt. tapi dengan syarat, kita melihat dengan hati; yang magnifikasinya jauh lebih besar berbanding sekadar melihat dengan mata polos. kita akan bertemu pelbagai perkara penting yang sangat seni untuk dilihat mata kasar.

lanjutannya, kata para ulama; "barangsiapa yang mengenal Tuhannya, maka dia akan mengenal siapa dirinya". nah, itulah yang tersangat saya harapkan. dalam perjalanan ini saya akan lebih mendekatkan diri kepada Allah, pemilik segala kerinduan dalam hati ini. tidak banyak, sedikit pun sudah sangat baik. adakah yang lebih bahagia daripada berada dekat dengan cinta dan rahmat Allah?

kemudian antara lainnya, saya juga berharapan besar agar dapat menangkap ratusan momen momen indah dan menarik lewat lensa kamera. hehe. alhamdulillah, sepanjang kembara ada DSLR bergantungan di bahu di samping si kecil video cam. hasilnya, 20++ gigabait gambar juga video terkumpul. haha. banyak tak banyak. tujuannya apa? sebenarnya saya mahu menyampaikan pengalaman atau kisah kisah yang saya dapat sepanjang kembara melalui gambar gambar. sebab kata Federick R. Barnard, "a picture speaks a thousands words".

objektifnya adalah saya mahu apa yang sampai kepada audiens tidak terhad sekadar membaca tulisan, yang kisaran kisahnya hanya bergantung kepada apa yang difikirkan oleh si penulis. berbeza apabila 'membaca' gambar yang punya ribuan cerita, audiens bisa melahirkan tafsiran masing masing dan belajar pelbagai perkara mengikut cerita apa yang mereka 'baca' pada gambar gambar tersebut. mengerti kan kalian? namun sebenarnya, usaha itu saya belum selesaikan lagi. ia ada dalam blog saya yang kedua, yang nanti saya siarkan, kalau jadi-lah.. hehe.




dan akhir sekali untuk entri ini, saya nak kongsi prinsip bahawa "the world is a book, and those who not travel, read a page only". yup, dunia ini adalah buku. setiap halaman adalah pengembaraan. dan setiap kali kita selesai membaca satu halaman buku yang menarik susun atur plot ceritanya, akan lahir rasa teruja ingin tahu apakah lanjutan kepada kisah tersebut di halaman kemudiannnya. dan rasa itu sentiasa hadir dan menjadi gian yang mendalam setiap kali bacaan diteruskan. begitu kan? nah itulah yang terjadi kepada saya. so, turn to next page?

this coming oktober: jakarta - bandung - jogjakarta. insyaAllah. :)


**but, unfortunately our ticket to indonesia sudah dikenselkan oleh pihak AirAsia due to some changes in their system. sob sob sob.. T_T . rancangan ke indonesia tunda la terpaksa.. (updated on 22 may 2014).


Sunday, April 13, 2014

kiibuso'14.




bab seterusnya akan muncul sebentar lagi. 
masih mencari waktu dan susunan kata yang paling indah untuk dicatatkan.

insyaAllah, tunggulah..

baca ini; catat kak piqa dan catat areen serta catat sakinah.

:)


Tuesday, March 18, 2014

jangan tinggal.



"Ustaz, dulu ana merasa bersemangat dalam dakwah. Tapi kebelakangan ini rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murabbinya di suatu malam.
Sang murabbi hanya terdiam, mencuba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya. "Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murabbi setelah sesaat termenung.
Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak Islamik. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti ini, kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingin sendiri saja.." jawab mad'u itu.
Sang murabbi termenung kembali. Tidak nampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.
"Akhi, bila suatu masa antum naik sebuah kapal mengharungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat buruk. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang lapuk bahkan kabinnya berbau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?" tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna cukup dalam.
Sang mad'u terdiam berfikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.
"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?" sang murabbi cuba memberi pilihan.
"Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan jerung datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang mad'u.
Sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya memuncak, namun sang murabbi yang dihormatinya tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.
Akhi, apakah antum masih merasa bahawa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" pertanyaan berat ini menghujam jiwa sang mad'u. Ia hanya mengangguk.
"Bagaimana bila kereta yang antum pandu dalam menempuh jalan itu rosak? Antum akan berjalan kaki meninggalkan kereta itu di tepi jalan, atau cuba memperbaikinya?" tanya sang murabbi lagi.
Sang mad'u tetap terdiam dalam sendu tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, "Cukup ustaz, cukup. Ana sedar. Maafkan ana. Ana akan tetap istiqamah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat pingat kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan..."
"Biarlah yang lain dengan urusan peribadi masing-masing. Ana akan tetap berjalan dalam dakwah ini. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana.." sang mad'u berazam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya.
Sang murabbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi di balik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah peribadi-peribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang diproses untuk menjadi manusia terbaik pilihan Allah."
"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuskanlah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Kerana di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."
"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang terbaik. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu ditangani dengan cara itu, maka sampai bilakah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.
"Kita bukan sekadar pemerhati yang hanya perlu memberi komen. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafir pun boleh melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahkan amanat oleh Allah untuk menyelesaikan masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya pandai mendedah kelamahan, yang dgn nya boleh menjadikan kerja dakwah semakin rumit."
"Jangan sampai, kita seperti menyiram minyak ke bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, boleh menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!"
Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bermain dihatinya.
"Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kemampuan ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.
"Siapa kata antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kemampuan yang berbeda. Namun tidak ada yang boleh menilai, bahawa yang satu lebih baik dari yang lain!" sahut sang murabbi.
"Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Kerana peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sesuatu isu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil (dengki, benci, iri hati) antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal seorang yang budak hina menemui kemuliaannya."
Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad'u bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullail malam itu. Sang murabbi sibuk membangunkan beberapa mad'unya yang lain dari keasyikan tidurnya.
Malam itu, sang mad'u menyedari kesilapannya. Ia bertekad untuk tetap bergerak bersama jama'ah dalam mengharungi dakwah. Pencerahan diperolehnya.
- Dato' Tuan Ibrahim bin Tuan Man.